Senin, 08 Oktober 2018

Manajemen Kinerja





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Suatu organisasi dibentuk untuk mencapai tujuan bersama,namun untuk mencapai tujuan secara efektif diperlukan manajemen yang biak dan benar.Terdapat berbagai pendapat tentang pengertian manajemen,walaupun pada dasarnya mempunyai makna yang kurang lebih sama.
Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa manajemen adalah sebagai suatu seni untuk mendapatkan segalah sesuatu dilakukan melalui orang lain.Pendapat ini berkembang berdasarkan kenyataan bahwa pemimpin mencapai tujuan organisasi dengan cara mengatur orang lain untuk melakukan pekerjaan yang diperlukan,tanpa harus melakukan pekerjaan sendiri.Manajemen merupakan praktik spesifik yang mengubah sekumpulan orang yang menjadi kelompok yang efektif,berorientasi pada tujuan yang produktif.
Terdapat pula pendapat yang menyatakan manajemen sebagai suatu proses untuk membuat aktifitas terselesaikan secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain.
Efisiensi menunjukkan hubungan antara input dan output dengan mencari biaya sumber daya minimum, sedangkan efektif menunjukkan makna pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (Robbin dan Coultar, 1996:6)
Dengan demikian,dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah proses pengunaan sumber daya organisasi dengan menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif.[1]
Sementara itu, pengertian dari ferformance sering diartikan sebagai kinerja,kinerja mempunyai makna lebih luas,bukan hanya menyatakan sebagai hasil kerja,tetapi juga bagaimana proses kerja berlangsung. Kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan tentang hasil yang di capai dari pekerjaan tersebut.kinerga adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya.Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategi organisasi,kepuasan konsumen dan memberikan konstribusi ekonomi.

A.    Rumusan masalah
1.         Bagaimana Pengertian Manajemen Kinerja ?
2.         Apa yang diaksud dengan Pengembangan kinerja ?
3.         Apa yang dimksud Upaya Mengembangkan dan Meningkatkan Kinerja ?
a.    Variabel Penting dalam pengembangan kinerja
b.    Studi Kasus 


B.     Tujuan
Dengan makalah ini dapat membantu penulisan untuk mengetahui lebih dalam mengenai Manajemen Kinerja. Agar melatih penulis untuk menulis sesuatu dengan berpikir secara ilmiah. Dengan makalah ini bisa menambah wawasan para penulis dimasa yang akan datang.







[1] Wibowo,Manakjemen Kinerja,(Jakata : PT Raja Grafindo Persada, 2007) hal.1-2
 














BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Konsep Pengembangan Kinerja
Kinerja adalah Istilah yang popular didalam manajemen, yang mana istilah kinerja didefinisikan dengan istilah hasil kerja, perstasi kerja dan performance.[1]Sedangkan pengembangan (development) diartikan sebagai penyiapan individu untuk memikul tanggung jawab yang berbeda atau yang lebih tinggi dalam perusahaan, organisaasi, lembaga atau instansi pendidikan.[2]Pengembangan cenderung lebih bersifat formal, menyangkut antisipasi kemampuan dan keahlian individu yang harus dipersiapkan bagi kepentingan jabatan yang akan datang.
Sasaran dan program pengembangan menyangkut aspek yang yang lebih luas yaitu peningkatan kemampuan individu untuk mengantisipasi perubahan yang mungkin terjadi tanpa direncanakan atau perubahan yang direncanakan. (Syafaruddin:2001:2 17).
Pengembangan Kinerja dalam kaitannya dengan pendidikan dapat diklarifikasikan ke dalam beberapa sub pengembangan, yaitu:
1.    Pengembangan kompetensi, berhubungan dengan peningkatan kemampuan: menguasai bahan, mengelola program pembelajaran, memilih dan menggunakan media dan sumber belajar, menguasai landasan kependidikan, mengelola kelas, mengelola interaksi pembelajaran, menilai prestasi hasil pembelajaran, melaksanakan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan, menyelenggarakan administrasi pendidikan, memahami prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan untuk pembelajaran, mengembangkan pengetahuan dengan metode ilimiah, mempublikasikan dan menerapkan pengetahuan, dan mengembangkan diri. Upaya yang didapat dilakukan untuk itu, antara lain: asistensi (Assistenships), pertemuan dosen (lectures confrences), seminar (seminars), bimbingan diskusi (guided discussions), lokakarya, program intruksional (programmed intructions), tugas khusus (special assignments), pelatihan (coaching), proyek penelitian (research projecks), kursus (courses), dan lain sebagainya.
2.    Pengembangan disiplin kerja, diarahkan pada konsistensi individu dalam memahami, menghayati, melaksanakan, dan memasyarakatkan ketentuan berprilaku dalam sistem kelembagaan.
3.    Pengembangan semangat kerja, memiliki karakteristik yang berlainan dengan pengembangan disiplin kerja. Semangat kerja berkaitan dengan ketulusan hati karena karena adanya kepuasan kerja sebagai akibat terpenuhinya kebutuhan dasar dari pekerjaan yang dilakukan. Kehadiran, kelambanan, antusisme, kerjasama merupakan indikator-indikator penting yang mengukur semangat kerja.
4.    Pengembangan karier dan kesejahteraan, pengembangan ini sangat dibutuhkan dalam mendukung usaha-usaha pengembangan karir dan kesejahteraan, pengembangan ini memiliki fungsi pemeliharaan atas upaya-upaya yang dilakukan dalam pengembangan -pengembangan sebelumnya.[3]
B.  Varibael-variabel Pengembangan Kinerja
Adapun variabel-variabel dalam pengembangan kinerja adalah:
1.      Pengembangan Sumber Daya Manusia
Untuk mengembangkan sumber daya manusia, Harvard business essentials (2006: 94) menganjurkan langkah dimulai dengan memahami pekerja, baru kemudian mengembangkan rencana, dan akhirnya menyusun taktik dalam mengembangkan pekerja.[4]
a.       Mulai dengan pekerja
Pengembangan di mulai dengan memahami aspirasi pekerja dan tingkat kecakapan di tempat pekerjaan sekarang. Semakin banyak kita tahu tentang orang yang bekerja untuk kita, semakin banyak kita mendapatkan memotivasi, meng-coach, dan membantu mereka untuk tumbuh.Pertemuan antar pemimpin dengan bawahan dalam penilaian kinerja merupakan salah satu cara untuk mendapatkan saling pengertian. Pada kesempatan tersebut biasanya pemimpin sebelumnya sudah mempunyai penilaian atas kinerja bawahan. Diskusi diarahkan pada dialog yang menyangkut aspirasi dan motivasi bawahan.
b.      Mengembangkan rencana
Apabila kita telah mempertimbangkan bawahan telah termotivasi untuk mendapatkan keterampilan baru, langkah selanjutnya adalah mengembangkan rencana. Rencana harus menyangkut menambahkan satu atau dua penugasan menentang dan kemudian menggunakan coaching atau pelatihan keterampilan formal untuk membantu pekerja mencapainya.Pendekatan yang tepat akan dipertimbangkan oleh situasi kerja. Apa pun yang kita lakukan perlu dikemas dalam rencana yang menantang, tetapi masi terjangkau. Kemudian didiskusikan dengan pekerja, membuat penyesuain yang perlu, dan mendapatkan komitmen terhadap rencana.
c.       Taktik mengembangkan pekerja
Terdapat empat taktik yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan bawahan yaitu:[5]
1)      Job redesign
Apabila pemimpin percaya bahwa bawahan dapat memberi kostribusipada tingkat yang lebih tinggi, maka jangan sekedar diberi tambahan tanggung jawab baru. Apabila demikian hanya akan membuat pekerja kelelahan atau burnout. Sebaliknya, dilakukan perancangan ulang pekerjaan dengan menyerahkan pekerjaan kepada pekerja yang lebih tepat. Bawahan potensial yang hanya mendapat tugas mudah, perlu diberikan beban tugas dengan tingkat yang lebih tinggi yang menyangkut tantangan dan pembelajaran. Sedangkan tugas yang ditinggalkan diserahkan kepada orang lain yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dengan demikian, sumber daya manusia dapat memberikan konstribusi lebih besar bagi organisasi.
2)      Taks delegation
Taks delegationbersifat menggeser pekerjaan secara permanen. Tetapi dalam beberapa hal, perubahan permanen tidak sesuai. Mungkin kita hanya memberi penugasan pada bawahan secara periodik yang memberi tantangan dan pengalaman. Pendelegasian tugas merupakan mekanisme manjerial yang lebih sesuai untuk melakukan ini.Delegasi adalah pemberian tugas spesifik atau proyek dari satu orang kepada lainnya. Apabila kita mendelegasikan, kita tidak hanya mentransfer pekerjaan kepada orang lain, tetapi juga akuntabilitas untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang di tentukan.
Delegasi yang efektif memberi manfaat nyata kepada pemimpin, bawahan, dan organisasi. Apabila kita mendelegasikan tugas, kita mengurangi beban tugas dan tingkat stres dengan menggeser sebagian kerja yang harus dilakukan. Hal ini memberikan lebih banyak waktu untuk memfokuskan pada aktivitas yang memerlukan keterampilan dan kewenangan untuk seperti perencanaan, analisis bisnis, mengontrol oprasi, mendapatkan sumber daya, dan hubungan dengan masalah manusia.
3)      Skill training
Pelatihan keterampilan adalah metode lain dari pengembangan pekerja, dengan tujuan untuk; (a) menjaga keterampilan pekerja searah dengan kemajuan teknologi dan praktik bisnis, dan (b); membantu pekerja menguasai keterampilan yang mereka perlukan untuk membuat konstribusi dan kemajuan lebih besar dalam prusahaan.
4)      Career development
Pengembangan karir merupakan teknologi yang menjelaskan banyak pengalaman pelatihan, penugasan kerja, dan ubungan monitoring. Setiap organisasi atau perusahaan bermaksud mendapatkan orang yang berharga dan mengisi lowongan yang disebabkan adanya pekerjaan yang memasuki masa pensiun atau keluar dari pekerjaan. Untuk menjaga konstinuitas dan pertumbuhan, organisasi harus menjalankan pengembangan karier. Akhirnya, praktik ini akan membentuk orang kuat yang pada suatu hari memimpin perusahaan sebagai profesional teknis, dan eksekutif senior.
2.    Pelatihan
Pelatihan (training) dan pengembangan (development) adalah merupakan investasi organisasi yang penting dalam sumber daya manusia. Pelatihan, melibatkan segenap sumber daya manusia untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan pembelajaran sehingga mereka segera akan dapat menggunakannya dalam pekerjaan. Pada dasarnya, pelatihan di perlukan karena adanya kesenjangan antara keterampilan pekerja sekarang dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menempati posisi baru.
Aktivitas pelatihan dan pengembangan sama pentingnya baik bagi pekerja maupun pemberi pekerja. Terdapat dua kunci keberhasilan untuk mengembangkan program pelatihan dalam organisasi yaitu:
a.       Perencanaan dan mengatur strategis pelatihan
1)      Needs assessment
Trainingneeds assessment atau penilain kebutuhan pelatihan mempertimbangkan mengapa aktivitas secara khusus diperlukan dan menempatkan pelatihan dalam konteks organisasi yang sesuai. Penilaian kebutuhan dilakukan melalui tiga tingkat analisis yaitu: organisasional, tugas, dan individual.Pada tingkat organisasional, pelatihan dipertimbangkan dalam konteks budaya organisasi, politik, struktur, dan strategi. Analisis ini mempertimbangkan bagaimana pelatihan akan membantu organisasi atau unit kerja memenuhi sasarannya dan bagaiamana pelatihan memengaruhi dinamika tempat pekerjaan dan di antara unit kerja sehari-hari.
2)      Objektivies
Setelah penilaian kebutuhan pelatihan dilakukan, sasaran untuk aktivitas pelatihan harus dikembangkan. Sasaran ini harus mengikuti langsung dari penilaian kebutuhan dan dideskripsikan dengan termenologi spesifik dengan terukur. Ukuran harus dinyatakan dalam bentuk prilaku pekerja yang diharapkan dan hasil yang diharapkan dari prilaku tersebut.Masalah yang umum pada tahapan ini adalah bahwa sasaran organisasi mungkin terlalu samar-samar sehingga keberhasilan dalam pencapainya tidak dapat diukur secara akurat atau dievaluasi. Sebaliknya, organisasi mungkin tidak mempunyai rencana untuk mengukur sasaran tersebut.
3)      Design and delivery
Setelah sasaran dan ukurun ditetapkan, langkah selanjutnya adalah merancang dan menyelenggarkan pelatihan itu sendiri. Ada dua hal penting yang harus dipertimbangkan sebelumnya. Pertama adalah interference atau gangguan. Gangguan terjadi ketika pelatihan, pembelajran atau kebiasaan bertindak yang dibentuk sebagai hambatan proses pembelajaran.Kedua adalah masalah transfer. Transfer adalah tentang apakah trainee atau learner dapat benar-benar menggunakan keterampilan baru di pekerjaan.
4)      Evaluation
Evaluasi harus menjadi bagian integral dari program pelatihan menyeluruh. Organisasi perlu menerima umpan balik tentang pelatihan dan memutuskan apakah pelatihan harus dilanjutkan dalam bentuknya seperti sekarang, modifikasi, atau dihilangkan sama sekali.
5)      Mengintegrasikan pelatihan dengan manajemen kinerja dan kompensasi
Faktor kunci kedua dalam strategi program pelatihan adalah memastikan bahwa hasil yang diharapkan dari pelatihan menunjukan bahwa pekerja mampu menyelesaikan pekerjaannya dan atas prestasinya tersebut selayaknya mendapatkan imbalan.Apabila pekerja memperluas usaha untuk belajar keterampilan baru dan atau menyerap pengetahuan baru dan diharapkan melaksanakan pembelajaran dalam pekerjaan, mereka perlu di beri insentif dan pengakuan atas kinerja apabila dicapai.
Apabila pekerja diminta untuk belajar keterampilan baru atau menyerap pengetahuan baru dan kemudian menerapkan dalam pekerjaan, maka berarti bahwa kinerja yang diukur harus mencerminkan perebahan tersebut. Semakin penting keterampilan dan pengetahuan bagi strategi organisasi, semakin besar penekanan pada penilaian system manajemen kinerja organisasi.Demikian pula halnya, kompensasi harus mencerminkan hasil pelatihan. Apabila pekerja belajar keterampilan dan pengetahuan baru dan berhasil mengimplementasikan pembelajaran untuk meningkatkan kinerja organisasi, mereka harus diberi kompensasi yang signifikan bagi mereka.
3.    Coaching
Fungsi coaching efektif lebih cenderung untuk mengambil bentuk rencana kerja ke depan dan sasaran bagi pekerja dalam cara yang membuat mereka bergerak tetap menuju bidang pengalamn baru, permintaan baru atas pengembangan keterampilan pribadi dan aplikasi kecerdikan dan pemecahan masalah. Adapun manfaat coaching:
a)      Mengatasi masalah pekerja
b)      Membangun keteramilan pekerja
c)      Meningkatkan produkvitas
d)     Menyiapkan bawahan yang dapat dipromosi
e)      Memperbaiki ikatan
f)       Memperkuat budaya kerja positif
Proses coaching Agar berlangsung dengan baik, pelaksanaan coaching harus dilakukan melalui proses. Coaching biasanya diselesaikan melalui proses bertahap dalam empat langkah berikut ini.
1)      Observasi
Merupakan langkah melakukan pengamatan, sebelum menentukan untuk melakukan coaching atau tidak. Sebaiknya coaching tidak dilakukan sampai kita memahami situasi, orang yang dihadapi dan mengetahui keterampilan apa yang sudah dimiliki bawahan sekarang ini.
2)      Diskusi
Diskusi didahului dengan melakukan persiapan tentang tujuan diskusi, menentukan isu yang dipikir penting untuk dibahas dan konsekuensi yang dapat timbul apabila tidak membicarkannya.


3)      Coaching secara aktif
Coaching secara aktif merupakan tahapan menjalankan coaching oleh manajer kepada bawahannya, sebagai hasil dari kesepakatan yang dapat diperoleh dalam diskusi.
4)      Tindak lanjut
Tindak lanjut membantu individu tetap dalam jalur untuk melakukanperbaikan. Apabila mereka keluar dari jalur, kita mendapat kesempatan memperbaikannya ke dalam jalur.
4.      Mentoring
Mentoring merupakan proses dimana seorang pekerja yang lebih berpengalaman memberikan saran, nasihat, bimbingan dan sebaliknya meningkatakan pengembangan profesional pekerja baru. Seorang mentor merupakan pekerja yang lebih berpengalaman yang membimbing pekerja yang lebih baru dalam belajar tentang pekerjaan dan organisasi. Pekerja yang kurang berpengalaman yang menerima bantuan dari mentor dinamakan protẻgẻ.
Proses Mentoring kebanyakan hubungan antara mentor dengan anak didiknya terjadi dalam empat tahapan berikut:[6]
a)      Initiation, berlansung selama 6-12 bulan dan merupakan periode dimana hubungan dimulai dan mengambil kepentingan kedua pihak.
b)      Culvitation, berlansung selama 2-5 tahun dalam periode tersebut ikatan antara mentor dan anak didik semakin mendalam, dan orang yang lebih muda dapat membuat karier dengan langkah cepat karena bantuan keterampilan yang diterimanya.
c)      Separation, mulai ketika anak didik merasa sudah waktunya memastikan kebebasan dan melangkah keluar atas kemauan sendiri, atau ketika terdapat perubahan yang datang dari luar dalam peranannya (misalnya anak didik dipromosikan atau mentor dipindahkan). Separation juga dapat terjadi apabila mentor merasa ti.dak dapat memberikan bantuan dan bimbingan lebih lanjut kepada anak didik (misalnya apabila mentor menderita sakit).
d)     Redefinition, terjadi dalam hal Separation berhasil. Kedua pihak merasa bahwa ikatannya sebagai persahabatan. Mereka saling memperlakukan dengan sama, dan peran mentor dan anak didik menjadi sepenuhnya hilang.
Fungsi Mentoringbermaksud mendorong pengembangan individu melalui fungsi karier maupun fungsi psikososial. Fungsi Karier dari mentoring berkenaan dengan aktivitas di tempat kerja, bermaksud meningkatkan kemampuan dan berada di dalam organisasi. Fungsi karier meliputi: (1) sponsorship, dimana mentor memberikan kesediaan dirinya untuk mendukung bawahannya; (2) coaching, dimana mentor mengajar dan memberikan umpan balik kepada bawahannya; (3) protection, dimana mentor mendukung dan/atau bertindak sebagai pelindung anak didik atau bawahannya; (4) challenge, dimana mentor mendorong cara berpikir dan bertindak baru dan mendorong anak didik untuk memperluas kemampuannya; dan (5) exposure dan viability, dimana mentor mengarahkan anak didik pada penugasan yang membuatnya dikenal manajemen puncak.
Manfaat Mentoring. Manfaat mentoring bagi organisasi antara lain adalah: (1) mengembangkan aset manusia dalam organisasi; (2) membantu mentransfer pengetahuan penting secara diam-diam dari sekelompok pekerja yang satu kepada lainnya; dan (3) membantu dalam menjaga pekerja yang dihargai.
Karakteristik mentor yang efektif adalah sebagai berikut:
1)      Mereka menetapkan standar yang tinggi.
2)      Mereka menyediakan diri bagi anak didik, bersedia menyediakan waktu dan usaha untuk melakukan mentoring dengan baik.
3)      Mereka menyusun pengembangan pengalaman bagi orang yang diberi nasihat, dengan mengarahkan anak didik dalam proyek penting, tim dan pekerjaan menantang.
4)      Mentor merupakan warga organisasi yang sukses dan dihargai.
5)      Mentor menunjukan dengan baik pengembangan keterampilan orang, dengan menjadi pendengar yang baik, tahu menunjukan empati pada orang lain, dan mempunyai kepribadian yang membuat nasihat dan pengasuhan memuaskan.
6)      Mentor memahami bagaimana anak didik belajar dengan cara terbaik, seperti melalui diskusi, pengalaman lansung dan metode-metode yang lain.
7)      Mentor mempunyai akses pada informasi dan orang yang dapat membantu karier orang lain.
8)      Mentor berterus terang dalam melakukan perjanjian.
9)      Mentor mempunyai hubungan baik dengan anak didik.
10)  Mentor sangat kuat terikat pada organisasi karena sangat puas dan nyaman dengan kedudukannya, dan tidak mungkin terpengaruh pada pesaing.
5.    Counseling
Konseling dimaksudkan sebagai setiap aktivitas yang terjadi di tempat pekerjaan dimana seorang individu memikul tanggung jawab atas dan mengelola pengambilan keputusannya sendiri, baik yang bersifat ada hubungannya dengan pekerjaan atau bersifat pribadi.
Maksud yang paling penting dari konseling adalah mendorong pekerja untuk menerima tanggung jawab lebih banyak untuk kinerja dan pengembangannya sendiri. Hal yang dapat dirasakan dan ditemukan orang untuk dirinya adalah seperti membuat pengaruh yang lebih besar dalam perilakunya daripada setiap hal yang diberikan manajer pada mereka.
Proses konselingdilakukan melalui tahapan sebagai berikut:[7]
a.       Recognation and understanding, yaitu pengakuan dan pemahaman terhadap keberadaan indikator masalah dan isu yang dihadapi.
b.      Empowering, yaitu memberdayakan pekerja untuk memungkinkan mereka mengenal masalahnya sendiri atau situasi dan mendorong mereka untuk menyatakannya, mengerjakan solusi dan melakukan tindakan untuk mengimplementasikannya.
c.       Resourching, dalam arti mengelola masalah termasuk memutuskan tentang bantuan lebih lanjut bagi setiap individu yang memerlukan dari manajernya, seorang spesialis atau sumber luar.
Konseling merupakan suatu proses keterampilan untuk melatih manajer mengembangkan kemampuan memberikan konseling dengan cara: (1) mengidentifikasi masalah yang dihadapi pekerja; (2) mengajukan pertanyaan secara terbuka dan tidak bersifat direktif dengan memfokus pada masalahnya; (3) mendengarkan masalah yang disampaikan dengan penuh perhatian, mengevaluasi, menginterpretasi dan memberikan dukungan pada pekerja; (4) mengembangkan sensifitas dengan mempertimbangkan nilai-nilai individu; (5) refleksi masalah dari sudut pandang individu; (6) memberikan empati pada perasaan dan keinginan individu; (7) tidak memihak, menahan diri untuk menentukan solusi; dan (8) mempunyai keyakinan bahwa pekerja mempunyai sumber daya untuk memecahkan masalah mereka sendiri, sekapun dengan dukungan manajer.
6.    Kecerdasan Kinerja
Mempunyai sumberdaya manusia yang mempunyai tingkat kecerdasan tinggi merupakan harapan setiap organisasi. Namun sangat sulit untuk mendapatkan tenaga kerja yang sudah memiliki tingkat kecerdasan tertentu yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Adalah menjadi kewajiban pemimpin untuk mengarahkan kepada tenaga kerjanya agar kecerdasannya meningkat, sehingga dapat memberikan konstribusi lebih besar pada organisasi.
Banyak orang memberikan kinerja terbaik ketika perekonomian sedang berkembang dan hanya logo yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis. Tetapi apa yang terjadi ketika kondisi berkembang sebaliknya, perekonomian sulit, pengangguran tinggi, pasar saham jatuh, dan kompetisi memenagkan pangsa pasar.
Pada umumnya orang mempunyai kinerja baik apabila situasi normal sehingga kinerja mengalir begitu saja.Yang diperlukan adalah mind of a champion, pikiran seorang juara, untuk memperbesar jumlah orang yang dapat memberikan kinerja terbaik dalam kesengsaraan, melanjudkan dan mengemudikan organisasi melalui iklim yang menantang. Kecerdasan kinerja bersangkutan dengan pemahaman tentang dimana kita sekarang, kemana kita akan menuju, dan bagaimana kita cara mencapainya.
Hasil akhirnya dapat diperoleh dengan mendapatkan orang yang dapat berpikir secara berbeda. Performanceintelligence berbeda dengan coaching, tetapi bersifat komplementer karena ditunjukan pada pemikiran di belakang teknik. Performance intelligence adalah tentang pemikiran (Julie Bell 2009:44).[8]
Kecerdasan kinerja memperkuat kemampuan memahami situasi dan kondisi dan tetap mengerjakan yang terbaik.
a.       Focus
Setiap orang tau bagaimana memfokus, tetapi tidak mengetahui kearah mana ditujukan. Pada umumnya orang mempunyai focus tunggal dengan memfokus pada kemenangan atau tidak kalah dan dengan memfokus pada kesalahan masa lalu.Dalam dunia yang penuh dengan banyak tugas atau multitasking, maka banyak hal berkompetisi untuk mendapatkan focus seseorang. Mengerjakan yang terbaik ketika menghadapi maslah terpenting adalah fokus tunggal. Kita dapat menjalankan banyak tugas, tetapi untuk masing-masing tugas tambahan, perhatian kita menurun dan focus kita menurun. Di sini kita akan kehilangan efektivitas.
Fokus adalah masalah memberikan perhatian pada apa yang paling penting pada saat yang tepat. Hal ini tidak berarti bahwa gangguan hilang, tetapi kida dalam kendali focus kita. Meskipun top performer membuat kesalahan, mereka tatap top performer karena mereka dapat focus melalui sebuah kesalahan. Mereka memfokus pada koreksi, yang memerlukan identifikasi informasi tentang apa yang harus dilakukan.
b.      Confidence
Kepercayaan memerngaruhi semua hal yang dilakukan orang. Kesalahan yang sering dilakukan adalah: (a) menjadi percaya diri terhadap hasil dari pada proses yang mencapai hasil, (b) mempunyai semua kepercayaan atau tidak sama sekali.Dalam banyak hal, kita tidak dapat percaya 100% pada hasil, karena kita tidak dapat mengendalikan sepenuhnya semua variable. Di samping kepercayaan pada hasil, kita harus melihat pada proses yang menciptakan hasil. Cara berfikir demikian akan memungkinkan kita percaya diri selarng dan menjadi percaya diri tentang mencapai tujuan masa depan.
c.       Winning Game-Plan
Winning game plan bukan sekedar winning plan, tetapi akan mendefinisikan kemenangan. Hal ini memungkinkan kita melihat apa yang akan berjalan dan apa yang tidak berjalan. Kita harus menjalankannya dengan penuh kepercayaan.Tidak semua orang mendefinisikan kemenangan dengan cara yang sama, seperti halnya dengan motivasi. Winning game plan dengan definisi pribadi tentang keberhasilan. Pada umumnya orang lebih suka membicarakan apa yang tidak berjalan. Winning game plan di mulai dengengan mempelajari apa yang berjalan. Aspek yang berjalan dalam hidup kita, yang menciptakan keberhasilan kita sekarang adalah bagaimana penghalang dari winning game plan kita.Kita juga harus melihat apa yang tidak berjalan, dengan memerhatikan hasil yang tidak kita harapkan. Kita akan lihat tindakan yang menciptakanhasil, kemudian meneliti dengan cermat pemikiran di belakang tindakan yang menyebabkan hasil yang tidak kita harapkan.
d.      Self-Diciplin
Disiplin dari mempunyai dua sisi. Di mulai dengan keinginan untuk memperbaiki atau berubah. Disiplin dari melibatkan akuntanbilitas secar sukarela, yang menetapkan tahapan untuk coaching yang sebenarnya.Apabila kita meminta orang dalam organisasi agar mereka meningkatkan kinerjanya ketingkat yang lebih tinggi, mereka segera menyatakan persetujuannya. Sebagian besaer orang tersebut bahkan mengikuti kursus atau pelatihan untuk memperbaiki keterampilannya. Tetapi tidak kurang yang membuat kesalahan dengan mendatangi supervisor atau manajer minta diberi coaching tanpa di siplin diri, sehingga coaching dirasakan seperti dinminta menghadap pimpinan.
Disiplin diri yang merupakan bagian kecerdasan kinerja melibatkan akuntanbilitas secara sukarela, melepaskan the coach dalam diri kita. Semakin rendah disiplin diri, semakin besar perlunya akuntanbilitas secara sukarela.
e.       Competitiveness
Untuk menjadi yang terbaik ketika menghadapi masalah paling berat, kita harus mempunyai keinginan internal untuk menang. Kebanyakan orang berfikir hal ini seperti bersaing melawan orang lain. Bentuknya biasa ‘I win you lose’, atau bahkan lebih buruk lagi ‘you min I lose’.Daya saing sebagai atribut kecerdasan kinerja menyusun kembali hubungan ‘win-lose’. Untuk meningkatkan kinerja ketingkat yang lebih tinggi, kita harus memulai dengan melihat skenario ‘win-win’. Kita juga harus berkopetisi dengan diri kita sendiri. Daya saing adalah tentang membawa permainan pada tingkat selanjutnya dari pada sekedar mengalahkan. Sekali kita memahami dampak bahwa pelatihan atribut kecerdasan kinerja akan terdapat dalam permainan, kita akan perlu alat untuk berlatih. Performance training center akan dapat memperlegkapi kita untuk mendapatkan yang terbaik ketika menghadapi persoalan paling sulit.

C. Contoh Kasus Pengembangan Karyawan di Sebuah Bank Swasta BCA
Sepanjang tahun 2005, BCA memfokuskan dirinya pada program pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk membangun kompetensi individu dan organisasi, guna menunjang Bank dalam mengembangkan kemampuan yang lebih baik dalam bisnis kredit dan perbankan transaksional. Kegiatan tersebut mencakup program pelatihan, pengembangan karir, serta revitalisasi organisasi. Seiring ekspansi yang sangat cepat di bisnis penyaluran kredit, mencakup segmen perbankan konsumer, komersial dan UKM, serta korporasi, BCA secara aktif merekrut kader-kader berbakat untuk posisi pemasaran kredit, analisa kredit dan pengelolaan risiko. Saat ini, karyawan yang bekerja di bidang pengelolaan risiko dan pemasaran kredit masing-masing berjumlah 341 dan 1.082 orang. Secara keseluruhan, sampai dengan akhir tahun 2005, BCA (tidak termasuk anak perusahaan) mempekerjakan 20.748 orang di seluruh unit operasinya.
Untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang cepat, BCA melalui Divisi Pelatihan dan Pengembangan telah melaksanakan lebih dari 101.000 hari pelatihan bagi para karyawan BCA. Pelatihan yang dilakukan di tahun 2005 mencapai 4,87 hari pelatihan untuk setiap karyawan. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari rata-rata sebelumnya yaitu 4,11 hari pelatihan per karyawan pada tahun 2004. Secara umum, program pelatihan diklasifkasikan dalam dua jenis program yaitu: Program Pelatihan Inti dan Program Pelatihan Profesional. Program Pelatihan Inti merupakan program pembelajaran berkesinambungan yang disusun untuk mengembangkan kompetensi di bidang Analisa Kredit, Pengelolaan Risiko, Pemasaran dan Manajemen Umum. Sebagai bagian dari program pengembangan karir, karyawan Bank diharuskan mengikuti Program Pelatihan Inti sesuai tingkat tanggung jawabnya. Sedangkan Program Pelatihan Profesional menyediakan program pelatihan dan sertifkasi bagi fungsi-fungsi tertentu, seperti Teller dan Account Offcer, serta topik pelatihan tertentu seperti Service Excellence, Teamwork, dan Teknologi Informasi. Pada tahun 2005, BCA meluncurkan program sertifkasi baru bagi Account Offcer, sedangkan program sertifkasi untuk Teller telah dimulai sejak tahun 2003. Melalui program sertifkasi ini, BCA secara konsisten terus menyediakan kualitas layanan yang terbaik bagi para nasabah[9]



[1] Husein Umar, Evaluasi Kinerja Perusahaan ( Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,2003) hlm 23.
[2]Adithia14.blogspot.co.id/2012/06/makalah-pelatihan-dan-pengembangan-sdm-.html?m=1, diakses pada tanggal 30-04-2017- 12:41 PM.
[3]MAKALAH%20Pengembangan%20Kinerja%20Tenaga%20Kependidikan%20-%20contoh%20makalah.html Di unduh pada tangal 01-05-2017 pukul 05:01 PM
[4] Wibowo, manajemen kinerja, Jakarta: Rajawali pers, 2014, hlm, 366.
[5]Ibid., hlm, 367.
[6]Ibid., hlm, 398.
[7]Ibid., hlm 404.
[8] Ibid hlm, 410
[9]Anggrianicindy7.blogspot.co.id/2014/11/salaj-satu-contoh-kasus-pelatihan dan.html?m=1 di akses 01-05-2017, pukul 08:46 AM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar