https://drive.google.com/drive/folders/0Byv9cjSHLRBaalNvMzJtRWU0Zms
Rafiuddin_ PMII
Anak Desa Sang Pengusaha Milineal
Kamis, 10 Oktober 2019
Jumat, 09 November 2018
Peran Manjemen Sarana Dan Prasarana Dalam Meningkatkan Mutu Di MAS Annur Azzubaidi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu
hal yang tidak
bisa terpisahkan dari
manusia. Setiap manusia
membutuhkan pendidikan. Baik formal ataupun non formal.
Terlebih
lagi pendidikan formal.
Seiring
perkembangan zaman,
pendidikan formal sangatlah penting untuk
kelangsungan hidup manusia,
baik untuk mendapatkan
pekerjaan ataupun ilmu pengetahuan.
Semakin tinggi seseorang memiliki Ijazah pendidikan, semakin besar juga peluang
orang tersebut untuk memperoleh pekerjaan yang
layak. Dan
untuk
mendapat ilmu pendidikan,
lembaga pendidikan harus memiliki pengajar dan kepala sekolah yang
kompeten. Selain itu juga sekolah harus memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang baik
dan sesuai dengan
kurikulum yang
ada. Komposisi
yang baik antara pengajar yang
kompeten dengan sarana prasarana pendidikan yang berkualitas akan membentuk lembaga pendidikan yang berkualitas juga yang akan berpengaruh terhadap siswa yang diajar.
Pendidikan
telah ada seiring dengan lahirnya manusia, ketika manusia muncul di ranah itu
pula pendidikan muncul. Pendidikan juga merupakan investasi yang paling utama
bagi bangsa, apalagi bagi bangsa yang sedang berkembang. Pembangunan hanya
dipersiapkan melalui pendidikan.[1]
Beberapa hal yang memepengaruhi kualitas pendidikan adalah sarana
prasarana pendidikan yang memadai dan baik, pengajar yang kompeten dan professional, peran kepala sekolah dan semangat belajar siswa
itu
sendiri. Sarana
dan
prasarana menjadi salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap Kualitas mutu bagi sekolah tersebut. Sarana
dan
prasarana
pendidikan merupakan salah satu dari
Delapan
Standar
Pendidikan
Nasional
sebagai penunjang untuk menjamin lancarnya penyelenggaraan
Kegiatan
Belajar Mengajar
(KBM)
di
sekolah
Pentingnya sarana prasarana
pendidikan dalam suatu lembaga sekolah dan sebagai
penunjang untuk kegiatan belajar mengajar juga tercantum dalam undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, BAB VII pasal
45 yang berbunyi :
1. Setiap
satuan
pendidikan formal dan non formal
menyediakan sarana dan
prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional,
dan kewajiban
peserta didik
2. Ketentuan mengenai penyediaan sarana dan prasarana pendidikan pada satuan
pendidikan sebagaimana diataur dalam ayat
satu.
Serta peraturan
RI No.
19
Tahun 2005, tentang
Standar
Nasional Pendidikan, BAB VII Pasal
42 Ayat 1 dan 2 menyatakan :
1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi prabot, peralatan
pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, serta
perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan
berkelanjutan.
2. Dan setiap satuan pendidikan meliputi : lahan, ruang kelas, ruang pimpinan, ruang guru, ruang tata usaha, ruang
perpustakaan, ruang laboratorium, ruang kantin, tempat
olahraga, dan tempat
ibadah, tempat bermain,
tempat berekreasi
dan
tempat yang
lain yang diperlukan menunjang proses pendidikan secara
teratur dan berkelanjutan.
Dalam
suatu lembaga
pendidikan tentu
memiliki cara tersendiri dalam mengelola sarana dan prasarana
pendidikannya. Dalam Hal ini peran kepala
sekolah
juga bertanggung jawab terhadap pemenuhan sarana
dan
prasarana pendidikan di lembaga
sekolah
yang
di kelolanya dengan dibantu oleh
Waka sarana prasarana. Untuk
mutu serta kualitas
belajar yang
baik dan ideal, suatu
lembaga pendidikan mau tidak mau wajib
menyediakan sarana prasarana pendidikan yang lengkap dengan kondisi yang baik sesuai dengan kurikulum
pelajaran yang ada.
Pemimpin harus sanggup menyusun rencana yang sesuai dengan
kebutuhan dan sesuai dengan anggaran yang tersedia. Dalam hal ini perencanaan
sangat penting.
Perencanaan
itu bukan hanya masalah
kuantitas dan kualitas
saja, tetapi faktor-faktor edukatifnya juga harus diperhatikan. Sangat penting untuk diperhatikan adalah
sampai mana
pengadaan dan penggunaan sarana prasarana itu
nantinya dapat bermanfaat untuk kegiatan belajar mengajar. Kepentingan pendidikan tidak
boleh dikorbankan
untuk kepentingan penghematan biaya, karena kerugian yang dapat ditimbulkan
dalam pembentukan anak dapat jauh
lebih besar dari pada kerugian material dan finansial.
Banyak sarana prasarana pendidikan yang
masih sangat memperihatinkan,
baik dari kualitasnya ataupun dari segi kuantitasnya. Lembaga
pendidikan yang
tidak memiliki sarana prasarana pendidikan yang baik dipastikan akan mengalami kendala dalam meningkatkan
kualitas pendidikan. Sebab setiap kegiatan belajar
mengajar, sarana dan prasarana pendidikan sangat di butuhkan
untuk mempermudah tercapainya tujuan pendidikan.
Berdasarkan penelitian Balitbang Depdiknas yang dilakukan pada
Oktober 2003 menyisir
sampel dan responden pada
56 Kabupaten atau Kota, yang mewakili wilayah Indonesia menemukan bahwa besarnya dana
pendidikan di luar
gaji
pendidik yang
semestinya
disediakan oleh pemerintah sebesar
20
%
dari APBN baru terpenuhi 6,4 %. Dana yang tersedia ini jauh di bawah kebutuhan
minimal. Akibatnya, ketersediaan,
ketercukupan, dan kondisi gedung, fasilitas,
peralatan, perlengkapan, bahan belajar-mengajar,
kesejahteraan pendidik berada
di bawah standar ( Ridwan. “ Upaya Pemenuhan Sarana Dan Prasarana Pendidikan
Di Madrasah Aliyah Annur
Azzubaidi” Vedcmalang.Com, Di Akses Pada Tanggal 21 Oktober 2018 Pukul 10:53 ).
Sampai saat ini 88,8 persen sekolah di Indonesia mulai SD
hingga SMA atau SMK belum melewati mutu standar pelayanan minimal. Pada pendidikan dasar hingga kini layanan pendidikan mulai dari guru, bangunan sekolah, fasilitas perpustakaan dan laboratorium, buku-buku pelajaran
dan
pengayaan,
serta buku referensi masih minim. Pada jenjang Sekolah Dasar (SD) baru 3,29% dari 146.904 yang
masuk kategori sekolah standar nasional,
51,71% katekori standar minimal
dan
44,84% dibawah standar pendidikan minimal. pada jenjang SMP 28,41% dari 34.185, 44,45%
berstandar minimal dan 26%
tidak memenuhi standar pelayanan
minimal. Hal
tersebut membuktikan bahwa pendidikan
di
Indonesia tidak terpenuhi sarana prasarananya .
Dari hasil survai tersebut, kita dapat melihat masih banyak sekolah yang memiliki masalah sarana dan prasarana pendidikan. Tidak salah jika dari hasil
survey Political And Economic Risk Consultacy
( PRC ) yang dilakukan pada
Tahun 2000 tentang mutu pendidikan di kawasan Asia, menempatkan Indonesia di rangking 12 setingkat dibawah Vietnam (Abdul Hadis, 2012: 1-2). Banyak hal yang menyebabkan beberapa sekolah
mengalami
masalah dengan sarana
prasarana pendidikannya. Masalah tersebut bisa terjadi karena manajemen yang kurang baik. Dari lokasi sekolah yang
letaknya sulit dijangkau oleh pemerintah sehingga mengahambat bantuan yang dikirim pemerintah. Dana yang minim,
kurang adanya perhatian dari anggota pendidikan yang ada di sekolah dalam segi
perawatan dan masih banyak lagi faktor lain yang membuat sekolah mengalami masalah
dengan
sarana prasarana pendidikannya.
Sebagai salah satu unsur yang berpengaruh terhadap kualitas pendidikan, sarana dan
prasarana pendidikan harus dikelola
dengan baik
dan benar. Agar tercapainya tujuan pendidikan. Dalam hal ini kepala sekolah harus bisa mencari solusi untuk mengadakan, merawat, dan meremajakan sarana
dan
prasarana
pendidikan di sekolah yang
dipimpinya. Koordinasi dan membentuk Waka Sarana
Prasana
yang baik
dan tepat,
serta
menanamkan
pemahaman
terhadap bawahannya dan siswanya untuk selalu menjaga dan merawat sarana prasarana
pendidikan akan membantu dalam proses manajemen sarana prasarana. Seperti
kita
tahu bahwa salah satu tugas pemimpin ataupun dalam hal ini kepala
sekolah adalah mengelola administrasi, yang
didalamnya menyangkut pengelolaan sarana
dan prasarana pendidikan (Rohmat, 2010: 71).
Setiap kepala sekolah memiliki cara
tersendiri untuk mengeloala sarana
dan
prasarana
pendidikan. Meskipun
dengan metode
dan
cara yang berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu untuk mendukung dan memajukan pendidikan di Indonesia.
Untuk mewujudkan sarana dan prasarana pendidikan yang
ideal perlu kerja keras.
Bukan hanya
dari kepala sekolah
sebagai supervisi pendidikan, tetapi melibatkan
seluruh anggota pendidikan. Baik kepala sekolah, guru, para staf, wali murid, masyarakat dan para
siswa. Semua anggota pendidikan tersebut harus saling bahu
membahu dan memiliki
kesadaran untuk menjaga sarana prasarana
pendidikan
supaya dalam
kondisi baik dan siap ketika akan diganakan. Pasal 46 Undang-
Undang No 20 Tahun 2003
menyatakan
pendanaan
pendidikan menjadi tanggung
jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. Pendanaan
ini yang
nantinya bisa untuk pembiayaan dalam pengelolaan sarana prasarana
pendidikan (Jamal Ma’mur Asmani,
2012: 231). Secara pasti dengan didukung sarana prasarana pendidikan yang memadai dan berkualitas, suatu lembaga
pendidikan sekolah
akan bisa memberikan pendidikan secara
maksimal dan murid yang
ada
bisa melaksanakan proses
pembelajaran dengan
nyaman dan baik.
Dari penjelasan di atas sudah
jelas betapa pentingnya
sarana
prasarana pendidikan pada
suatu lembaga
sekolah. Kegiatan pembelajaran praktek sangat erat kaitanya dengan sarana prasarana
pendidikan. Selain guru sebagai pembimbing, sarana prasarana
pendidikan untuk
menunjang dan sebagai alat
dan tempat untuk proses pembelajaran. Tanpa adanya
sarana prasarana
pendidikan yang memadai, Sekolah akan sulit untuk menjalankan kegiatan belajar mengajarnya.
Tentu akan
berpengaruh terhadap
kualitas
mutu anak didik. Hal ini sangat menarik bagi penulis untuk meneliti sarana
prasarana pendidikan pada MAS. Sebab MAS merupakan jenjang tingkat
pendidikan yang
sangat membutuhkan sarana prasarana pendidikan dengan manajemen yang baik untuk
proses pembelajarannya.
Melihat perkembangan yang cukup baik dan visi dari MAS
Annur Azzubaidi serta melihat dari kualitas Mutu, penulis akan meneliti peran manajemen sarana prasarana pendidikan
dalam meningkatkan mutu di MAS Anuur Azzubaidi.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, peneliti menemukan dan membuat
rumusan masalah
1.
Bagaimana peran manajemen sarana dan prasarana pendidikan
dalam meningkatkan mutu di MAS Annur Azzubaidi
2.
Bagaimana Kondisi sarana prasarana pendidikan di MAS
ANNUR AZZUBAIDI
C. Devinisi
Oprasional
Definisi operasional variabel adalah
pengertian variabel (yang diungkap dalam definisi konsep) tersebut,
secara operasional, secara praktik, secara nyata dalam lingkup obyek penelitian/obyek yang diteliti. Variabel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel Penelitinan
|
Devinisi/ Sub. Variabel
|
Teori/ Konsep
|
Devinisi Sarana Dan
Prasarana
|
Butir Pertanyaan
|
Manajemen Sarana dan
Prasarana Pendidikan dalam meningkatkan mutu
|
1.
Semangat Siswa
2.
Hasil Belajar
3.
Penilaian mutu terhadap masyarakat
|
1.Pengertian Manajeen sarana dan prasarana pedidikan
|
Manajemen sarana dan prasarana adalah
proses kerjasama pendayagunaan semua perlengkapan pendidikan secara efektif
dan efisien.
|
|
2. Pengertian Mutu
Pendidikan
|
E. Tujuan dan
Manfaat
1.
Tujuan
penelitian
Setelah mengetahui permasalahan yang ada,
penelitian ini dilakukan dengan tujuan :
a. Untuk
mengetahui bagaimana proses manajemen sarana dan prasarana pendidikan di MAS Annur Azzubaidi, apakah
sudah baik apa belum, baik dari teori maupun prakteknya dan mutu yang di hasilkan bagi
siswa.
b. Untuk
mengetahui kondisi sarana prasarana pendidikan di MAS Annur Azzubaidi
2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang dapat di ambil
adalah:
a. Secara
teoritis
Secara teoritis, hasil penelitian
ini diharapkan bisa memberikan pengetahuan bagaimana mengelola sarana dan prasarana
pendidikan yang baik dengan mutu yang di hasilkan terutama di MAS Annur
Azzubaidi. Serta semoga bisa menjadi masukan dalam pengembangan
sarana dan prasarana pendidikan.
b. Secara
praktis ,Yaitu:
1. Bagi peneliti,
penelitian ini untuk menambah wawasan mengenai sarana dan prasarana pendidikan
di Sekolah Madrasah Aliyah Swasta (MAS)
2. Menambah
wacana dan ilmu mengenai penelitian sarana dan prasarana pendidikan di Sekolah Madrasah
Aliyah Swasta (MAS)
3. Untuk menambah
kajian pustaka bagi IAIN Kendari khususnya Jurusan Tarbiyah Prodi Kependidikan
Islam yang sekarang menjadi Manajemen Pendidikan Islam. serta untuk masyarakat
pada umumnya.
BAB II
LANDASAN TEORITIK
A.
Manajemen Sarana dan
Prasarana Pendidikan
a.
Manajemen
Manajemen
adalah kegiatan seseorang dalam mengatur organisasi,lembaga atau sekolah yang
bersifat manusia maupun non manusia, sehingga tujuan organisasi, lembaga atau
sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien .[2]
Istilah
manajemen juga sering didevisinikan sebagai kegiatan mengelolah berbagai sumber
daya dengan bekerja sama dengan orang lain melalui poses tertentu untuk
mencapai tujuan organisasi yang afektif dan efisian. Menurt Nanang Fatta,
manajemen sering diartikan sebagai ilmu kiat dan profesi. Dikatakan sebagai
kiat, karena menurut Follet manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara
denagan menagtur orang lain menjalankan dalam tugas. Dipandang sebagai profesi
karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai prestasi
manajer, dan para profesional di tuntut oleh suatu kode etik. [3]
Dalam
proses manajemen terlibat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang
manajer/pemompin yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),
pemimpin (leading), dan pengawasan ( controling). Oleh karena itu manajemen
diartikan sebagai proses perencana, pengorganisasian, pemimpin dan pengawasan
untuk mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan
organisasi tercapai secara efektif dan afisien. [4]
b.
Sarana dan Prasarana
Sarana pendidikan merupakan sarana penunjang bagi proses
belajar mengajar. Menurut tim penyusun pedoman pembakuan media depertemen
pendidikan dan kebudayaan, maka yang dimaksud sebagai sarana pendidikan adalah
semua aktifitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang
bergerak maupun yang tidak bergerak agar mencapai tujuan pendidikan dapat
berjalan dengan lancar yang efektif dan afesien.[5]
Srimunarti menyebutkan sarana adalah perlengkapan yang secara
langsung dipergunakan untuk proses pendidikan seperti meja,kursi,papan tulis
dan lain-lain. Sedangkan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara
tidak langsung menunnjang jalanya proses pendidikan seperti, halaman, kebun dan
taman.[6]
Dalam hubunganya dengan sarana pendidikan Nawawi (1987), mengklasifikasikanya
menjadi beberpa macam sarana pendidikan yaitu ditinjau dari sudut , habis
tidaknya dipakai, bergerak tidaknya pada saat digunakan, dan hubunganya dengan
proses pembelajaran. Dengan uraian ditas
maka standarisasi saran dan prasarana sekolah sangat di haruskan karena untuk
memacau pengelola, penyelengara dan satuan pendidikan agar dapat meningkatkan
kinerjanya dalam memberikan layanan pekerjaan yang bermutu. Dalam Peraturan
Mentri Pendidikan Nasional No 24 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah
Bab II
“Standar sarana dan prasarana sekolah menengah
pertama/madarsah Stanawiyah (SMP/MTS)
A.
Satuan Pendidikan
1.
Satu SMP/MTs minimum memiliki 3 rombongan belajar dan
maksimum 24 belajar.
2.
Satu SMP?MTs dengan tiga rombongan belajar melayani 2000
jiwa. Untuk peayanan penduduk lebih dari 2000 jiwa dilakukan rombongan belajar
disekolah yang telah ada, dan bila rombongan belajar lebih dari 24 dilakukakan
pembangunan SMP/MTs Baru.
3.
Satu kecamatan dilyani minimum satu SMP/MTs yang dapat
menampung semua lulusan SD/MI di kecamatan tersebut.
4.
Satu kelompok permukiman permanen dan terpencil dengan
banyak dengan banyak penduduk lebih dari 1000 jiwa yang dilayani oleh satu
SMP/MTs dalam jarajtempu bagipeserta didik yang berjalan kaki maksimum 6 Km,
melalui lintasan yang tidak membahayakan.[7]
c.
Manajemen Sarana Dan
Prasarana
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan dapat dudefinisikan
sebagai proses kerja sama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan
secara efektif dan efisien. Devinisi ini menujukan bahwa saran dan prasarana
yang ada disekolah perlu didayagunakan dan dikelolah untuk kepentingan proses
pembelajaran di sekolah . pengelolaan ini dimaksud agar dalam menggunakan
sarana dan prasrana bisa berjalan dengan efektif dan efisian. Penegelolaan sarana
dan prasarana merupakan kegiatan yang
sangat penting disekolah, karena keberadaanya sangant mendukung terhadap
prosesnya kegiatan pembelajaran di sekolah.[8]
Manajemen saran dan prasarana pendidikan bertugas
mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan
kotribusi secara optimaldan berarti pada jalanya proses pendidikan. Kegiatan
pengelolaan ini meliputi kegaitan perencanaan pengedaan, pengawasan,
penyimpanan, invenstarisasi, dan penghapusan serta penataan. Manajemen sarana danprasarana
yang baik dapat menciptakan sekolahyang bersih rapi dan indah sehingga
menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru untuk murid yang ada
disekolah. [9]
Secara umum tujuan manajemen perlengkapan
sekolah adalah memberika layanan secar profesiona di bidang sarana dan prasarana pendidikan dalam
rangka terselenggaranya proses pendidikan secara efektif dan efisien. Secara
rinci tujuannya adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengupayakan pengadaan sarana dan
prasarana pendidikan melalui sistem perencanaan dan pengadaan yang hati-hati
dan seksama. Dengan perkataan ini, melalui manajemen perlengkapan pendidikan
diharapkan semua perlengkapan
yang didapatkan oleh sekolah adalah sarana dan prasarana pendidikan yang
berkualitas tinggi, sesuai dengan kebutuhan sekolah, dan dengan dana yang
efisen. 2) Untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana sekolah secara
tepat dan efisien. 3) Untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana
sekolah, sehingga keberadaannya selalu dalam kondisi siap pakai dalam setiap
diperlukan oleh semua personel sekolah.19 Manajemen sarana prasarana sekolah
itu terwujud sebagai suatu proses yang terdiri atas langkah-langkah tertentu
secara sistematis.
2.
Untuk mengupayakan pemakaian sarana dan
prasarana sekolah secara tepat dan efisien.
3.
Untuk mengupayakan
pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, sehingga keberadaannya selalu dalam
kondisi siap pakai dalam setiap diperlukan oleh semua personel sekolah.[10]
Manajemen sarana prasarana sekolah itu
terwujud sebagai suatu proses yang terdiri atas langkah-langkah tertentu secara
sistematis. Prosesnya
meliputi:
a.
Perencanaan Perencanaan adalah suatau proses
memikirkan dan menetapkan kegiatan-kegiatan atau program-program yang akan
dilakukan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan tertentu. Berdasarkan
pengertian tersebut, perencanaan perlengkapan pendidikan dapat didefinisikan
sebagai suatu proses memikirkan dan menetapkan program pengadaan fasilitas
sekolah, baik yang berbentuk sarana maupun prasarana pendidikan di masa yang
akan datang untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan yang ingin dicapai dengan
perencanaan pengadaan perlengkapan atau fasilitas tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan. Oleh karena
itu, keefektifan suatu perencanaan pengadaan perlengkapan sekolah tersebut
dapat dinilai atau dilihat dari seberapa jauh pengadaannya itu dapat memenuhi
kebutuhan perlengkapan di sekolah dalam periode tertentu. Apabila pengadaan
perlengkapan itu betul-betul sesuai dengan kebutuhannya, berarti perencanaan
pengadaan perlengkapan di sekolah itu betul-betul efektif. [11]
b.
Pengadaan Pengadaan perlengkapan pendidikan
pada dasarnya merupakan upaya merealisasikan rencana pengadaan perlengkapan
yang telah disusun sebelumnya. Pengadaan merupakan serangkaian kegiatan
menyediakan berbagai jenis sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan
kebutuhan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kebutuhan sarana prasarana dapat
berkaiatan dengan jenis dan spesifikasi, jumlah, waktu, tempat, dan harga serta
sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengadaan dilakukan sebagai bentuk
realisasi atas perencanaan yang telah dilakukan sebelumnya. Tujuannya untuk
menunjang proses pendidikan agar berjalan efektif dan efisien sesuai dengan
tujuan yang diinginkan [12]
c.
Pendistribusian Barang-barang perlengkapan
sekolah yang telah diadakan dapat didistribusikan. Pendistribusian perlengkapan
sekolah adalah kegiatan pemindahan barang dan tanggung jawab dari seorang
penanggung jawab penyimpanan kepada unit-unit atau orang-orang yang
membutuhkannya. Ada tiga langkah pendistribusian perlengkapan pendidikan di
sekolah, yaitu penyusunan alokasi barang, pengiriman barang, dan penyerahan
barang. Dalam kaitan dengan pendistribusian perlengkapan di sekolah ada
beberapa asas yang perlu diperhatikan dan dipegang teguh, yaitu ketepatan barang
yang disalurkan, ketepatan sasaran penyaluran dan ketepatan kondisi barang yang
disalurkan. Sedangkan khusus dalam kaitannya dengan penyusunan alokasi barang
ada empat hal yang perlu ditetapkan, yaitu penerima barang, waktu penyaluran
barang, jenis barang yang akan disalurkan dan jumlah barang yang akan
disalurkan.[13]
d.
Penggunaan dan Pemeliharaan Begitu
barang-barang perlengkapan yang telah diadakan itu didistribusikan kepada
bagian-bagian kelas, perpustakaan, laboratorium, tata usaha, atau personel sekolah
berarti barang- barang perlengkapan itu sudah berada dalam tanggung jawab
bagian-bagian atau personal sekolah tersebut. Atas pelimpahan itu pula bagian-bagian atau personel sekolah
tersebut berhak memakainya untuk kepentingan proses pendidikan di sekolahnya.
Dalam kaitan dengan pemakaian perlengkapan pendidikan itu, ada dua prinsip yang
harus selalu diperhatikan, yaitu prinsip efektivitas dan prinsip efisiensi.
Dengan prinsip efektivitas berarti semua pemakaian perlengkapan pendidikan di
sekolah harus ditujukan semata-mata dalam rangka memperlancar pencapaian tujuan
pendidikan sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan
dengan prinsip efisiensi berarti pemakaian semua perlengkapan pendidikan di
sekolah secara hemat dan dengan hati-hati sehingga semua perlengkapan yang ada
tidak mudah habis, rusak atau hilang. Dalam rangka memenuhi kedua prinsip
tersebut di atas maka paling tidak ada tiga kegiatan pokok yang perlu dilakukan
oleh personal sekolah yang akan mamakai perlengkapan pendidikan di sekolah,
yaitu mamahami petunjuk penggunaan perlengkapan pendidikan, menata perlengkapan
pendidikan, dan memelihara baik secara kontinu maupun berkala semua
perlengkapan pendidikan.[14]
Sedangkan dalam
hubungannya dengan pemeliharaan perlengkapan pendidikan, ada beberapa macam
pemeliharaan. Ditinjau dari sifatnya, ada empat macam pemeliharaan, yaitu
pemeliharaan bersifat pengecekan, pemeliharaan yang bersifat pencegahan,
pemeliharaan yang bersifat perbaikan ringan,dan pemeliharaan yang bersifat
perbaikan berat. Apabila dilihat dari segi waktunya, ada dua macam pemeliharaan
perlengkapan pendidikan di sekolah, yaitu pemeliharaan sehari-hari dan
pemeliharaan berkala.[15]
e.
Inventarisasi Salah satu aktivitas dalam pengelolaan
perlengkapan pendidikan di sekolah adalah mencatat semua perlengkapan yang
dimiliki oleh sekolah. Lazimnya,
kegiatan pencatatan semua perlengkapan itu disebut dengan istilah inventarisasi
perlengkapan pendidikan. Kegiatan tersebut merupakan suatu proses yang
berkelanjutan. Secara definitive, inventarisasi adalah pencatatan dan
penyusunan daftar barang milik Negara secara sistematis, tertib dan teratur
beradasarkan ketentuan-ketentuan atau pedoman-pedoman yang berlaku. Menurut
Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor Kep. 225/MK/V/4/1971 barang milik Negara
adalah berupa semua barang yang berasal atau dibeli dengan dana yang bersumber,
baik secara keseluruhan atau sebagiannya, dari Anggaran Pendapatan Belanja
Negara (APBN) ataupun dana lainnya yang barang-barangnya di bawah penguasaan pemerintah, baik pusat, provinsi,
maupun daerah otonom, baik yang berada di dalam maupun luar negeri.[16]
f.
Penghapusan Selama proses investaris
kadang-kadang petugasnya menemukan barang-barang atau perlengkapan sekolah yang
rusak berat. Barang-barang itu tidak dapat digunakan dan tidak dapat diperbaiki
lagi. Seandainya diperbaiki, perbaikan akan menelan biaya yang sangat besar
sehingga lebih baik membeli yang baru dari pada memperbaikinya. Demikian pula,
ketika melakukan inventarisasi perlengkapan, petugasnya mungkin menemukan beberapa
perlengkapan pendidikan yang jumlahnya berlebihan sehingga tidak digunakan
lagi, dan barang-barang yang kuno yang tidak sesuai dengan situasi. Apabila
semua perlengkapan tersebut tetap dibiarkan atau disimpan, antara biaya
pemeliharaan dan kegunaannya secara teknis dan ekonomis tidak seimbang. Oleh
Karena itu, terhadap semua barang atau perlengkapan tersebut perlu dilakukan
penghapusan.[17]
Dalam penelitian ini salah satu bahasan pokok
dari manajemen sarana prasarana adalah manajemen perpustakaan, manajemen
laboratorium dan media pengajaran.
B.
Mutu Pendidikan
Mutu menurut
Juran, sebagaimana yang
dikutip oleh Abdul Hadis dalam bukunya Manajemen Mutu Pendidikan, menyatakan bahwa mutu adalah
kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan[18]
Menurut Crosby,
mutu
adalah Conformance
to requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau yang distandarkan. Suatu produk
memiliki mutu apabila
sesuai dengan standar atau kriteria mutu yang telah
ditentukan,
standar mutu
tersebut meliputi bahan baku,
proses
produksi dan produk jadi.
Menurut Feigenbaum, mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya.
Suatu produk dianggap bermutu
apabila dapat memberikan
kepuasan sepenuhnya kepada
konsumen yaitu
sesuai dengan harapan konsumen atas produk yang dihasilkan
oleh
perusahaan.[19]
Jadi dari beberapa
pengertian diatas dapat dipahami bahwa mutu berarti gambaran dan karakteristik
menyeluruh dari barang atau
jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan. Dalam konteks pendidikan mutu mencakup
tiga
bagian
yaitu input,
proses,
dan output pendidikan.
1) Input
pendidikan adalah
segala hal yang
harus tersedia karena dibutuhkan untuk
berlangsungnya proses. Segala hal yang dimaksud adalah sumberdaya
dan perangkat lunak serta harapan-harapan
sebagai pemandu
bagi
berlangsungnya proses.
Input sumberdaya
meliputi sumberdaya manusia
(kepala
sekolah, guru, karyawan,
siswa) dan sumberdaya selebihnya
(peralatan, perlengkapan,
uang, bahan, dan sebagainya). Input perangkat lunak
meliputi struktur organisasi sekolah, peraturan
undang-undang, deskripsi
tugas, rencana,
program, dan sebagainya. Input harapan-harapan berupa visi, misi,
tujuan, dan sasaran-sasaran yang
ingin dicapai oleh sekolah.
Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung
dengan baik. Oleh karena
itu, tinggi
rendahnya mutu input dapat diukur dari
tingkat
kesiapan input.
Makin tinggi kesiapan input makin
tinggi pula
mutu input tersebut.
2) Proses
pendidikan merupakan kejadian berubahnya sesuatu menjadi sesuatu
yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedangkan sesuatu
dari
hasil proses disebut
output. Proses yang
dimaksud disini adalah proses
pengambilan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan
program, proses belajar serta proses
monitoring
dan evaluasi,
dengan catatan bahwa
proses
belajar mengajar memiliki
tingkat
kepentingan tertinggi dibanding dengan
proses
lainnya.
3) Output
pendidikan merupakan kinerja sekolah.
Kinerja sekolah adalah
prestasi
sekolah yang dihasilkan dari proses
atau prilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitas, efektivitas, dengan kualitas atau mutu output sekolah,
dapat dijelaskan
bahwa output
sekolah
dikatakan berkualitas
atau bermutu tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi belajar siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam prestasi.
Mutu atau kualitas
juga
mempunyai fungsi dan
tujuan. fungsinya sebagai sistem manajemen untuk
meningkatkan kualitas produk atau outcome sehingga bisa
diterima oleh
pelanggan dan
dapat menghindari
timbulnya kesalahan yang fatal.
Sedangkan tujuan dari
mutu atau
kualitas adalah
memberikan kepuasan
terhadap
kebutuhan pelanggan seefisien mungkin.
Gerakan
mutu merupakan
perkembangan mutu yang terdiri dari empat era.
Menurut Salis, gerakan mutu memiliki empat era, yaitu inspeksi,
pengendalian mutu melalui statistic, jaminan mutu, dan manajemen mutu.
Gerakan mutu dimulai dari dunia industri yang menggunakan bahasa,
konsep dan metodologi yang diambil dari Manajemen Mutu
Terpadu atau Total Quality Management. Mulai berkembang kebutuhan untuk
selalu memastikan bahwa produk
perusahaan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan, memberikan
kepuasan pada pelanggan,
serta memberikan nilai untuk
mendatangkan uang. Mencapai kualitas yang
konsisten
memungkinkan konsumen
untuk memiliki keyakinan tertahadap produk dan produsernya. Penghargaan serta medali emas dan perak adalah
bukti adanya perhatian
pada
mutu.
Sebelum muncul gerakan
mutu, di mana persaingan belum muncul, produsen belum memberikan kesempatan
memilih pada pelanggan. Pelanggan pun tidak diberikan hak untuk menuntut mutu
pelayanan yang lebih baik atau yang diharapkan. Mutu pelayanan organisasi
public belum menjadi penilaian. Pengguna hanya mengutamakan yang penting
produknya ada dan dapat digunakan saja. Perkembangan ini
merupakan era berkembangnya jaminan mutu dengan menekankan pada biaya mutu,
pengendalian mutu terpadu, reliability engineering, dan zero defect.
Pengendalian mutu harus dimulai dari perancangan produk dan berakhir jika
produk telah sampai ke tangan pelanggan yang puas. Menurut Feigenbaaum, salah
satu pemikir Total Quality Control, kegiatan mutu apat dikelompokkan ke
dalam tiga kategori, yaitu pengendalian rancangan baru, bahan baku, dan produk.[20]
Gerakan
mutu
terpadu dalam
pendidikan berkembang
belakangan. Ada beberapa referensi dalam
literatur sebelum akhir 1980-an. Kebanyak perintisan TQM dilakukan oleh perguruan tinggi di Amerika Serikat dan pendidikan lanjutan
setingkat college di Inggris.
Amerika berinisiatif
mengembangkan penjaminan mutu pendidikan jauh sebelum Inggris, namun di
kedua negara peningkatan perhatian pada mutu terjadi dari tahun 1990 dan seterusnya. Banyak dari ide-ide yang
berhubungan dengan TQM sekarang berkembang baik di perguruan tinggi dan pandangan tentang jaminan mutu
sudah mulai menjadi mainstream
di sekolah. Pada tahun 2001 muncul jaminan
mutu di Eropa versi EFQM (European Foundation for Quality Management) penghargaan bagi pemenang
untuk sekolah di Irlandia Utara. St Mary College, yaitu sebuah
sekolah
untuk anak-anak perempuan di Londonderry, meraih
penghargaan dan posisi runner-up diraih sekolah
lain dari Inggris, yaitu City Technology College di Kingshurst. Keduanya adalah bukti bahwa gerakan kualitas menjadi utama dalam pendidikan.
Meskipun pengakuan atas kebutuhan mengembangkan budaya mutu masih sedikit di beberapa bidang
pendidikan dan
enggan untuk bergabung
dengan beberapa tradisionalis yang
melihat metodologi manajemen
industri dan bahasa. Inilah yang mungkin
dapat menjelaskan keterlambatan visi
gerakan mutu dalam pendidikan.
Beberapa praktisi pendidikan tidak suka
menyamakan antara proses pendidikan dan manufaktur produk industri.
Namun,
ada kemauan untuk berkembang
untuk mengeksplorasi dari dunia industri. Inisiatif dunia pendidikan baru-baru ini, seperti pertumbuhan kemitraan bisnis pendidikan telah membawa pendidikan dan bisnis lebih dekat satu sama lain
dan bersama-sama telah membuat konsep industri jauh lebih dapat diterima.[21]
Deming melihat masalah
kualitas terletak pada manajemen. Ini adalah wawasan penting karena pandangan
mayoritas waktu adalah bahwa masalah kualitas selalu disandarkan pada kesalahan
pekerja. Pengerjaan yang buruk sering dipersalahkan karena masalah kualitas.
Deming menunjukkan bahwa tidak hanya budaya menyalahkan yang kontraproduktif,
tetapi jika harus menyalahkan harus dialamatkan pada manajemen. Penyebab dasar
dari industri masalah kualitas, menurut Deming, adalah kegagalan manajemen para
senior yang merencanakan masa depan perusahaan. Mereka yang mengendalikan
sumber daya yang tersedia untuk perusahaan dan kebijakan mereka memiliki dampak
besar pada perusahaan budaya. Melalui tindakan mereka, mereka bertanggung jawab
atas kualitas produk yang mereka hasilkan. Untuk memberikan panduan bagaimana
mengelola kualitas, Deming mengemukakan 14 poin dalam manajemen mutu yang
terkenal, yaitu:[22]
a. Menciptakan konsisten
tujuan
b. Mengadopsi filosofi
mutu total
c. Mengurangi kebutuhan
pengujian
d. Menilai perusahaan
dengan cara baru
e.
Memperbaiki mutu dan produktivitas serta mengurangi
biaya
f. Belajar sepanjang hayat
g. Kepemimpinan dalam
pendidikan
h. Mengeliminasi rasa takut
i.
Mengeliminasi hambatan keberhasilan
j.
Menciptakan budaya mutu
k. Perbaikan proses
l.
Berorientasi pada hasil
C.
Kerangka
Pikir
Kerangka berpikir yaitu peta konsep hasil penelitian yang akan diharapkan berdasarkan kajian
teori. Kerangka berpikir
menjadi pijakan dalam mendeskripsikan data atau
justru
menemukan teori berdasarkan
lapangan. Dalam hal ini, bahwa
sarana prasarana
merupakan pelayanan
untuk
mendukung terhadap peningkatan kualitas
pendidikan. Selain bergantung
pada kualitas guru
juga harus ditunjang
dengan adanya sarana dan prasarana pendidikan
yang
memadai, karena kenyamanan
siswa
atau peserta didik
dalam pembelajaran juga harus didukung dengan fasilitas atau perlengkapan yang memadai dan layak guna.
Sehingga peserta didik
akan merasakan kenyamanan dalam proses pembelajaran dan selalu berlomba-lomba
untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Untuk itu, semua pihak sekolah senantiasa berupaya
untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik dengan menyediakan sarana dan
prasarana yang baik, seperti gedung, laboratorium, perpustakaan, ruang kesenian
dan lain sebagainya.
Pelayanan yang baik tentu didasari dengan
manajemen yang baik juga, oleh karena itu perlu adanya manajemen sarana dan
prasarana yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan supaya mencapai
tujuan yang telah ditentukan. Pengelolaan sarana dan
prasarana merupakan kegiatan yang penting dalam proses pembelajaran, maka untuk
mengelola sarana dan prasarana yang baik tentu diawali dengan program-program
yang sudah ditentukan yakni,pendistribusian, inventarisasi, pemeliharaan,
penataan, dan sebagainya.Berdasarkan kerangka berpikir diatas, jika kualitas
pelayanan baik maka tingkat kualitas siswa juga baik.
D.
Hipotesis
Berdasarkan pada
hasil-hasil penelitian di atas, memang sudah ada penelitian-penelitian yang
serupa dengan yang akan penulis teliti. Akan tetapi, dari lokasi dan studi
kasus penelitiannya jelas berbeda. Penelitian ini lebih fokus terhadap manajemen sarana dan prasarana
pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan dan peneliti mengambil lokasi di MAS
Annur Azzubaidi , dalam hal tersebut keterkaitan antara manajemen dalam peningkatan
mutu pendidikan di sekolah tersebut guna untuk menghasilkan kualitas siswa yang
bermutu.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengguakan jenis
penelitian kuatitatif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk mencari fenomena
yang terjadi dan dilakukan dengan berbagai metode yang ada. Penelitian ini
tidak mementingkan kedalama suatu data, peneliti kuantitatif tidak mengacu pada
seberapa data tersebut yang terpenting bisa intuk merekam data sebanyak mungkin
dari popolasi yang ada sehingga menmukan hasul yang kita cari.
Menurut sugiyono teori merupak kumpulan
konsep,proposisi devinisi dan juga variabel yang mana keterkaitanya anata satu
denga yang lainya secara sistematik telah berhasil digenerasikan, sehingga bisa
menjelaskan dan juga memprediksi fenomena dan fakta tertentu.
Pendekatan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dengan pendekatan
kuantitatif yang bersifat deskriptif. Metodologi kuantitatif sebagai
proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis
atau lisan dari orang-orang dan perilaku
yang diamati. Metode kuantitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam,
suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang
pasti yang merupakan sesuatu nilai dibalik data yang tampak. Oleh karena itu
dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi, tetapi lebih
menekankan pada makna (Sugiyono, 2010: 15).
B. Tempat Dan Waktu
Peneliian
ini dilakukan pada sekolah madrasah aliyah annur azzubaidi pendiri KH. Anang
zubaidi , berdiri tahun berdiri 1997 pimpinan sekarang harmin, s.pd jumlah
siswa 155 orang siswa hari/tgl observasi kamis,21 september 2018 lokasijl.s.
palulu no. 30 desa.larowiu kec. Meluhu kab. konawe prov.sulawesi tenggara.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan
data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian ini,
metode yang penulis gunakan antara lain :
a. Observasi
Observasi adalah cara
pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan dan pencacatan secara
sistematik terhadap gejala atau fenomena yang ada dalam objek penelitian
(Suharsimi Arikunto, 2002: 133). Dalam penelitian data yang diperoleh dengan cara
mencatat secara
langsung objek yang diteliti. Observasi yang dilakukan pada penelitian ini
adalah dengan menggunakan observasi langsung yaitu pengamatan terhadap kondisi
fisik di MAS Annur Azzubaidi dengan menentukan sarana dan prasarana pendidikan,
metode, alat dan perangkat yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan di MAS Annur Azzubaidi.
b. Wawancara
Wawancara digunakan
sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi
pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila
peneliti ingin mengetahui hal – hal dari responden yang lebih mendalam dan
jumlah responden besar atau sedikit (Sugiyono, 2010: 194). Dalam hal ini penulis
mengadakan wawancara dengan Kepala Sekolah, Kepala bengkel dan kepala program
studi guna mendapatkan informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan
pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan dalam meningkatkan mutu atau
kualitas di MAS Annur Azzubaidi.
c. Dokumentasi
Dokumen merupakan
catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan,gambar,
atau karya – karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 82: 2005). Dokumen yang
berbentuk tulisan misalkan catatan harian,sejarah kehidupan, biografi,
peraturan, dan kebijakan. Sedangkan dokumen yang berbentuk karya misalnya karya
seni,yang dapat berupa gambar, patung, dan film. Studi dokumen merupakan
pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian
kuatitatif.
E.
Metode Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari
dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara,
catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasi data kedalam
katagori, menjabarkan kedalam unit-unit melakukan sintesa, menyusun kedalam pola,
memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan
sehingga mudah difahami oleh diri sendiri Dalam penelitian kualitatif teknik
analisis data yang digunakan sudah jelas, yaitu diarahkan untuk menjawab
rumusan masalah yang telah dirumuskan dalam proposal (Sugiyono, 87: 2005)
Teknik analisis data merupakan bagian penting dalam penelitian, karena anlisis
data dapat memberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah dalam
penelitian. Dari data yang akan diperoleh kemudian dianalisis. Adapun teknik
analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara induktif yang
didasarkan pada analisis kuatitatif. Beberapa diskripsi digunakan untuk
menemukan prinsip-prinsip dan penjelasan yang mengarah pada kesimpulan. Penelitian
kuatitatif bersifat induktif yaitu peneliti membiarkan permasalahan-permasalahan
muncul dari data atau dibiarkan terbuka untuk interpretasi. Data dihimpun dengan
pengamatan seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang mendetil disertai
catatan-catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen dan
catatan-catatan. Penelitian Kuantitatif mempunyai dua tujuan utama, yaitu
pertama, menggambarkan dan mengungkap ( to deskribe and explore) dan ke
dua, menggambarkan dan menjelaskan (to deskribe and explain).
DAFTAR PUSTAKA
Minarti Sri, Manajemen Sekolah :
Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri, (yogyakarta:Ar-Ruzz Media,2011),
Sulitsyoroni, Manajemen Pendidikan
Islam, konsep strategi dan aplikiasi (Yogyakarta
: Sukses Offsec, 2009)
Banawi & M. Arifin Manajemen .
Suharno, Manajemen Pendidikan (sebuah
Pengantar Bagi Calon guru) (Surakarta : Lembaga Pengenbangan Pendidikan UNS
dan UPT Prees,2008)
Arikunto Suharsimi dan Yuliana Lia,Manajemen
Pendidikan, (Yogyakarta: Aditiya Media, 2008).
Sri Minarti, Manajemen Sekolah, Mengelolah
Lembaga Pendidikan Secara Mandiri, Yogyakarta :Ar-Ruzz, Medi: 2004)
peraturan Mentri Pendidikan Nasional No 24 Tentang
Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Bab II
Sulistyoroni, Manajemen.
E. Mulyasa.Manajemen Berbasis Sekolah
.Konsep, Strategi Dan
Implementasi (bandung, PT Remaja
Rosdakarya , 2004 )
Bafadal Ibrahim, Manajemen
Perlengkapan Sekolah : Teori dan Aplikasinya (Jakarta: PT Bumi
Abdul Hadis, Nur Hayati, Manajemen Mutu Pendidikan,(Bandung: Alfa Beta, 2012)
Widjaya Amin Tunggal, Manajemen Mutu Terpadu. (Jakarta: Rineka Cipta:1993)
[1] Sri Minarti, Manajemen Sekolah : Mengelola Lembaga Pendidikan
Secara Mandiri, (yogyakarta:Ar-Ruzz Media,2011), hal. 247
[2]Sulitsyoroni, Manajemen Pendidikan Islam, konsep
strategi dan aplikiasi ( Yogyakarta : Sukses Offsec, 2009) hlm. 11
[4] Suharno, Manajemen
Pendidikan (sebuah Pengantar Bagi Calon guru) (Surakarta : Lembaga
Pengenbangan Pendidikan UNS dan UPT Prees,2008) hlm. 01
[5] Suharsimi Arikunto dan
Lia Yuliana,Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: Aditiya Media, 2008).
Hlm,273
[6] Sri Minarti, Manajemen
Sekolah, Mengelolah Lembaga Pendidikan Secara Mandiri, Yogyakarta :Ar-Ruzz,
Medi: 2004) hlm. 251
[9] E. Mulyasa.Manajemen
Berbasis Sekolah .Konsep, Strategi Dan
Implementasi (bandung, PT Remaja
Rosdakarya , 2004 ) hlm. 50
[10] Ibrahim Bafadal, Manajemen Perlengkapan Sekolah : Teori dan
Aplikasinya (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004), hal. 5
[11]Ibid., hal. 26-27
[13] Ibid., hal. 40-41
[14] Ibid., hal. 42
[16]Ibid., hal. 5
[17] Ibid., hal. 61-62
[19] Abdul Hadis, Nur Hayati, Manajemen Mutu Pendidikan, hlm. 85
[21] Ibid.hlm.124
[22]Amin Widjaya Tunggal, Manajemen Mutu Terpadu. (Jakarta: Rineka Cipta:1993), hal.43
Langganan:
Postingan (Atom)