Jumat, 09 November 2018

Peran Manjemen Sarana Dan Prasarana Dalam Meningkatkan Mutu Di MAS Annur Azzubaidi



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Belakang Masalah

Pendidikan  merupakan  suatu  hal  yang  tidak  bisa  terpisahkan  dari manusia. Setiap manusia membutuhkan pendidikan. Baik formal ataupun non formal.   Terlebih   lagi   pendidikan   formal.   Seiring   perkembangan   zaman, pendidikan formal sangatlah penting untuk kelangsungan hidup manusia, baik untuk   mendapatkan   pekerjaan   ataupun   ilmu   pengetahuan.   Semakin   tinggi seseorang memiliki Ijazah pendidikan, semakin besar juga peluang orang tersebut untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Dan untuk mendapat ilmu pendidikan, lembaga pendidikan harus memiliki pengajar dan kepala sekolah yang kompeten. Selain itu juga sekolah harus memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang baik dan sesuai dengan kurikulum yang ada. Komposisi yang baik antara pengajar yang kompeten dengan sarana prasarana pendidikan yang berkualitas akan membentuk lembaga pendidikan yang berkualitas juga yang akan berpengaruh terhadap siswa yang diajar.
Pendidikan telah ada seiring dengan lahirnya manusia, ketika manusia muncul di ranah itu pula pendidikan muncul. Pendidikan juga merupakan investasi yang paling utama bagi bangsa, apalagi bagi bangsa yang sedang berkembang. Pembangunan hanya dipersiapkan melalui pendidikan.[1]
Beberapa hal  yang memepengaruhi kualitas pendidikan adalah sarana prasarana pendidikan yang memadai dan baik, pengajar yang kompeten dan professional, peran kepala sekolah dan semangat belajar siswa itu sendiri.  Sarana dan prasarana menjadi salah satu aspek yang sangat berpengaruh  terhadap Kualitas mutu bagi sekolah tersebut. Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu dari Delapan  Standar  Pendidikan  Nasional  sebagai  penunjang  untuk  menjamin lancarnya  penyelenggaraan  Kegiatan  Belajar  Mengajar  (KBM)  di  sekolah


Pentingnya sarana prasarana pendidikan dalam suatu lembaga sekolah dan sebagai penunjang untuk kegiatan belajar mengajar juga tercantum dalam undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, BAB VII pasal 45 yang berbunyi :
1. Setiap  satuan  pendidikan  formal  dan  non  formal  menyediakan  sarana  dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan   sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kewajiban peserta didik
2. Ketentuan mengenai penyediaan sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan sebagaimana diataur dalam ayat satu.
Serta  peraturan  RI  No.  19  Tahun  2005,  tentang  Standar  Nasional Pendidikan, BAB VII Pasal 42 Ayat 1 dan 2 menyatakan :
1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi prabot, peralatan pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
2. Dan setiap satuan pendidikan meliputi : lahan, ruang kelas, ruang pimpinan, ruang guru, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang kantin, tempat olahraga, dan tempat ibadah, tempat bermain, tempat berekreasi dan tempat yang lain yang diperlukan menunjang proses pendidikan secara teratur dan berkelanjutan.
Dalam  suatu  lembaga  pendidikan  tentu  memiliki  cara tersendiri  dalam mengelola  sarana  dan  prasarana  pendidikannya.  Dalam Hal ini peran kepala  sekolah juga bertanggung jawab terhadap pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan di lembaga sekolah yang   di   kelolanya   dengan   dibantu   oleh   Waka   sarana   prasarana.   Untuk mutu serta kualitas belajar yang baik dan ideal, suatu lembaga pendidikan mau tidak mau wajib menyediakan sarana prasarana pendidikan yang lengkap dengan kondisi yang baik sesuai dengan kurikulum pelajaran yang ada.


Pemimpin   harus   sanggup   menyusun   rencana   yang   sesuai   dengan kebutuhan dan sesuai dengan anggaran yang tersedia. Dalam hal ini perencanaan sangat penting. Perencanaan itu bukan hanya masalah kuantitas dan kualitas saja, tetapi faktor-faktor edukatifnya juga  harus diperhatikan. Sangat penting untuk diperhatikan adalah sampai mana pengadaan dan penggunaan sarana prasarana itu nantinya dapat bermanfaat untuk kegiatan belajar mengajar. Kepentingan pendidikan  tidak  boleh  dikorbankan  untuk  kepentingan  penghematan  biaya, karena kerugian  yang dapat ditimbulkan dalam  pembentukan anak dapat jauh lebih besar dari pada kerugian material dan finansial.
Banyak sarana prasarana pendidikan yang masih sangat memperihatinkan, baik dari kualitasnya ataupun dari segi kuantitasnya. Lembaga pendidikan yang tidak memiliki sarana prasarana pendidikan yang baik dipastikan akan mengalami kendala dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebab setiap kegiatan belajar mengajar, sarana dan prasarana pendidikan sangat di butuhkan untuk mempermudah tercapainya tujuan pendidikan.
Berdasarkan   penelitian   Balitbang   Depdiknas   yang   dilakukan   pada Oktober 2003 menyisir sampel dan responden pada 56 Kabupaten atau Kota, yang mewakili wilayah Indonesia menemukan bahwa besarnya dana pendidikan di luar gaji  pendidik  yang  semestinya  disediakan  oleh  pemerintah sebesar  20  % dari APBN baru terpenuhi 6,4 %. Dana yang tersedia ini jauh di bawah kebutuhan minimal. Akibatnya, ketersediaan, ketercukupan, dan kondisi gedung, fasilitas, peralatan, perlengkapan, bahan belajar-mengajar, kesejahteraan pendidik berada di bawah standar ( Ridwan. Upaya Pemenuhan Sarana Dan Prasarana Pendidikan


Di Madrasah Aliyah Annur Azzubaidi Vedcmalang.Com, Di Akses Pada Tanggal 21 Oktober 2018 Pukul 10:53 ).
Sampai saat ini 88,8 persen sekolah di Indonesia mulai SD hingga SMA atau SMK belum melewati mutu standar pelayanan minimal. Pada pendidikan dasar hingga kini layanan pendidikan mulai dari guru, bangunan sekolah, fasilitas perpustakaan dan laboratorium, buku-buku pelajaran dan pengayaan, serta buku referensi masih minim. Pada jenjang Sekolah Dasar (SD) baru 3,29% dari 146.904 yang masuk kategori sekolah standar nasional, 51,71% katekori standar minimal dan 44,84% dibawah standar pendidikan minimal. pada jenjang SMP 28,41% dari 34.185, 44,45% berstandar minimal dan 26% tidak memenuhi standar pelayanan minimal.  Hal  tersebut  membuktikan  bahwa  pendidikan  di  Indonesia  tidak terpenuhi sarana prasarananya .
Dari hasil survai tersebut, kita dapat melihat masih banyak sekolah yang memiliki masalah sarana dan prasarana pendidikan.   Tidak salah jika dari hasil survey Political And Economic Risk Consultacy ( PRC ) yang dilakukan pada Tahun 2000 tentang mutu pendidikan di kawasan Asia, menempatkan Indonesia di rangking 12 setingkat dibawah Vietnam (Abdul Hadis, 2012: 1-2). Banyak hal yang   menyebabkan   beberapa   sekolah   mengalami   masalah   dengan   sarana prasarana pendidikannya. Masalah tersebut bisa terjadi karena manajemen yang kurang baik. Dari lokasi sekolah yang letaknya sulit dijangkau oleh pemerintah sehingga mengahambat bantuan yang dikirim pemerintah. Dana yang minim, kurang adanya perhatian dari anggota pendidikan yang ada di sekolah dalam segi


perawatan dan masih banyak lagi faktor lain yang membuat sekolah mengalami masalah dengan sarana prasarana pendidikannya.
Sebagai salah satu unsur yang berpengaruh terhadap kualitas pendidikan, sarana dan  prasarana pendidikan  harus dikelola dengan  baik  dan  benar. Agar tercapainya tujuan pendidikan. Dalam hal ini kepala sekolah harus bisa mencari solusi untuk mengadakan, merawat, dan meremajakan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah yang dipimpinya. Koordinasi dan membentuk Waka Sarana Prasana   yang   baik   dan   tepat,   serta   menanamkan   pemahaman   terhadap bawahannya dan siswanya untuk selalu menjaga dan merawat sarana prasarana pendidikan akan membantu dalam proses manajemen sarana prasarana. Seperti kita tahu bahwa salah satu tugas pemimpin ataupun dalam hal ini kepala sekolah adalah mengelola administrasi, yang didalamnya menyangkut pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan (Rohmat, 2010: 71).
Setiap kepala sekolah memiliki cara tersendiri untuk mengeloala sarana dan prasarana pendidikan. Meskipun dengan metode dan cara yang berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu untuk mendukung dan memajukan pendidikan di Indonesia. Untuk mewujudkan sarana dan prasarana pendidikan yang ideal perlu kerja keras. Bukan hanya dari kepala sekolah sebagai supervisi pendidikan, tetapi melibatkan seluruh anggota pendidikan. Baik kepala sekolah, guru, para staf, wali murid, masyarakat dan para siswa. Semua anggota pendidikan tersebut harus saling bahu membahu dan memiliki kesadaran untuk menjaga sarana prasarana pendidikan supaya dalam kondisi baik dan siap ketika akan diganakan. Pasal 46 Undang- Undang No 20 Tahun 2003 menyatakan pendanaan pendidikan menjadi tanggung


jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. Pendanaan ini yang nantinya bisa untuk pembiayaan dalam pengelolaan sarana prasarana pendidikan (Jamal Mamur Asmani,   2012: 231). Secara pasti dengan didukung sarana prasarana pendidikan yang memadai dan berkualitas, suatu lembaga pendidikan sekolah akan bisa memberikan pendidikan secara maksimal dan murid yang ada bisa melaksanakan proses pembelajaran dengan nyaman dan baik.
Dari penjelasan di atas sudah jelas betapa pentingnya sarana prasarana pendidikan pada suatu lembaga sekolah. Kegiatan pembelajaran praktek sangat erat kaitanya dengan sarana prasarana pendidikan. Selain guru sebagai pembimbing, sarana prasarana pendidikan untuk menunjang dan sebagai alat dan tempat untuk proses pembelajaran. Tanpa adanya sarana prasarana pendidikan yang memadai, Sekolah akan sulit untuk menjalankan kegiatan belajar mengajarnya. Tentu akan berpengaruh terhadap kualitas mutu anak didik. Hal ini sangat menarik bagi penulis untuk meneliti sarana prasarana pendidikan pada MAS. Sebab MAS merupakan jenjang tingkat pendidikan yang sangat membutuhkan sarana prasarana pendidikan dengan manajemen yang baik untuk proses pembelajarannya.
Melihat perkembangan yang cukup baik dan visi dari MAS Annur Azzubaidi serta melihat dari kualitas Mutu, penulis   akan   meneliti  peran manajemen sarana   prasarana pendidikan dalam meningkatkan mutu  di   MAS Anuur Azzubaidi.
B.        Rumusan Masalah                        
Dari latar belakang masalah diatas, peneliti menemukan dan membuat rumusan masalah
1.      Bagaimana peran manajemen sarana dan prasarana pendidikan dalam meningkatkan mutu di MAS Annur Azzubaidi
2.      Bagaimana Kondisi sarana prasarana pendidikan di MAS ANNUR AZZUBAIDI
C.        Devinisi Oprasional
Definisi operasional variabel adalah pengertian variabel (yang diungkap dalam definisi konsep) tersebut, secara operasional, secara praktik, secara nyata dalam lingkup obyek penelitian/obyek yang diteliti. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel Penelitinan
Devinisi/ Sub. Variabel
Teori/ Konsep
Devinisi Sarana Dan Prasarana
Butir Pertanyaan
Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan dalam meningkatkan mutu
1.      Semangat Siswa
2.      Hasil Belajar
3.      Penilaian mutu terhadap masyarakat
1.Pengertian Manajeen sarana dan prasarana pedidikan
Manajemen sarana dan prasarana adalah proses kerjasama pendayagunaan semua perlengkapan pendidikan secara efektif dan efisien.  


2.   Pengertian Mutu Pendidikan


E.        Tujuan dan Manfaat
1.    Tujuan penelitian
Setelah mengetahui permasalahan yang ada, penelitian ini dilakukan dengan tujuan :
a.       Untuk mengetahui bagaimana proses manajemen sarana dan prasarana  pendidikan di MAS Annur Azzubaidi, apakah sudah baik apa belum, baik dari  teori maupun prakteknya dan mutu yang di hasilkan bagi siswa.
b.      Untuk mengetahui kondisi sarana prasarana pendidikan di MAS Annur Azzubaidi
2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang dapat di ambil adalah:
a.         Secara teoritis
            Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan  pengetahuan bagaimana mengelola sarana dan prasarana pendidikan yang  baik dengan mutu yang di hasilkan terutama di MAS Annur Azzubaidi. Serta semoga bisa menjadi masukan  dalam pengembangan sarana dan prasarana pendidikan.
b.         Secara praktis ,Yaitu:
1.      Bagi peneliti, penelitian ini untuk menambah wawasan mengenai sarana dan prasarana pendidikan di Sekolah Madrasah Aliyah Swasta (MAS) 
2.      Menambah wacana dan ilmu mengenai penelitian sarana dan prasarana pendidikan di Sekolah Madrasah Aliyah Swasta (MAS)
3.      Untuk menambah kajian pustaka bagi IAIN Kendari khususnya Jurusan Tarbiyah Prodi Kependidikan Islam yang sekarang menjadi Manajemen Pendidikan Islam. serta untuk masyarakat pada umumnya.
                                                                                                                     















BAB II
LANDASAN TEORITIK

A.  Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
a.      Manajemen
             Manajemen adalah kegiatan seseorang dalam mengatur organisasi,lembaga atau sekolah yang bersifat manusia maupun non manusia, sehingga tujuan organisasi, lembaga atau sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien .[2]
             Istilah manajemen juga sering didevisinikan sebagai kegiatan mengelolah berbagai sumber daya dengan bekerja sama dengan orang lain melalui poses tertentu untuk mencapai tujuan organisasi yang afektif dan efisian. Menurt Nanang Fatta, manajemen sering diartikan sebagai ilmu kiat dan profesi. Dikatakan sebagai kiat, karena menurut Follet manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara denagan menagtur orang lain menjalankan dalam tugas. Dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai prestasi manajer, dan para profesional di tuntut oleh suatu kode etik. [3]
             Dalam proses manajemen terlibat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang manajer/pemompin yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemimpin (leading), dan pengawasan ( controling). Oleh karena itu manajemen diartikan sebagai proses perencana, pengorganisasian, pemimpin dan pengawasan untuk mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan afisien. [4]
b.      Sarana dan Prasarana
        Sarana pendidikan merupakan sarana penunjang bagi proses belajar mengajar. Menurut tim penyusun pedoman pembakuan media depertemen pendidikan dan kebudayaan, maka yang dimaksud sebagai sarana pendidikan adalah semua aktifitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar mencapai tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar yang efektif dan afesien.[5]
        Srimunarti menyebutkan sarana adalah perlengkapan yang secara langsung dipergunakan untuk proses pendidikan seperti meja,kursi,papan tulis dan lain-lain. Sedangkan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunnjang jalanya proses pendidikan seperti, halaman, kebun dan taman.[6]
        Dalam hubunganya dengan sarana pendidikan Nawawi (1987), mengklasifikasikanya menjadi beberpa macam sarana pendidikan yaitu ditinjau dari sudut , habis tidaknya dipakai, bergerak tidaknya pada saat digunakan, dan hubunganya dengan proses pembelajaran.  Dengan uraian ditas maka standarisasi saran dan prasarana sekolah sangat di haruskan karena untuk memacau pengelola, penyelengara dan satuan pendidikan agar dapat meningkatkan kinerjanya dalam memberikan layanan pekerjaan yang bermutu. Dalam Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No 24 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Bab II
             “Standar sarana dan prasarana sekolah menengah pertama/madarsah Stanawiyah (SMP/MTS)
A.    Satuan Pendidikan
1.      Satu SMP/MTs minimum memiliki 3 rombongan belajar dan maksimum 24 belajar.
2.      Satu SMP?MTs dengan tiga rombongan belajar melayani 2000 jiwa. Untuk peayanan penduduk lebih dari 2000 jiwa dilakukan rombongan belajar disekolah yang telah ada, dan bila rombongan belajar lebih dari 24 dilakukakan pembangunan SMP/MTs Baru.
3.      Satu kecamatan dilyani minimum satu SMP/MTs yang dapat menampung semua lulusan SD/MI di kecamatan tersebut.
4.      Satu kelompok permukiman permanen dan terpencil dengan banyak dengan banyak penduduk lebih dari 1000 jiwa yang dilayani oleh satu SMP/MTs dalam jarajtempu bagipeserta didik yang berjalan kaki maksimum 6 Km, melalui lintasan yang tidak membahayakan.[7]
c.       Manajemen Sarana Dan Prasarana
            Manajemen sarana dan prasarana pendidikan dapat dudefinisikan sebagai proses kerja sama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan secara efektif dan efisien. Devinisi ini menujukan bahwa saran dan prasarana yang ada disekolah perlu didayagunakan dan dikelolah untuk kepentingan proses pembelajaran di sekolah . pengelolaan ini dimaksud agar dalam menggunakan sarana dan prasrana bisa berjalan dengan efektif dan efisian. Penegelolaan sarana dan prasarana merupakan  kegiatan yang sangat penting disekolah, karena keberadaanya sangant mendukung terhadap prosesnya kegiatan pembelajaran di sekolah.[8]
                   Manajemen saran dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kotribusi secara optimaldan berarti pada jalanya proses pendidikan. Kegiatan pengelolaan ini meliputi kegaitan perencanaan pengedaan, pengawasan, penyimpanan, invenstarisasi, dan penghapusan serta penataan. Manajemen sarana danprasarana yang baik dapat menciptakan sekolahyang bersih rapi dan indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru untuk murid yang ada disekolah. [9]
                        Secara umum tujuan manajemen perlengkapan sekolah adalah memberika layanan secar profesiona di bidang sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses pendidikan secara efektif dan efisien. Secara rinci tujuannya adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan melalui sistem perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan seksama. Dengan perkataan ini, melalui manajemen perlengkapan pendidikan diharapkan semua perlengkapan yang didapatkan oleh sekolah adalah sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas tinggi, sesuai dengan kebutuhan sekolah, dan dengan dana yang efisen. 2) Untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana sekolah secara tepat dan efisien. 3) Untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, sehingga keberadaannya selalu dalam kondisi siap pakai dalam setiap diperlukan oleh semua personel sekolah.19 Manajemen sarana prasarana sekolah itu terwujud sebagai suatu proses yang terdiri atas langkah-langkah tertentu secara sistematis.
2.      Untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana sekolah secara tepat dan efisien.
3.       Untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, sehingga keberadaannya selalu dalam kondisi siap pakai dalam setiap diperlukan oleh semua personel sekolah.[10]
 Manajemen sarana prasarana sekolah itu terwujud sebagai suatu proses yang terdiri atas langkah-langkah tertentu secara sistematis. Prosesnya meliputi:
a.       Perencanaan Perencanaan adalah suatau proses memikirkan dan menetapkan kegiatan-kegiatan atau program-program yang akan dilakukan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, perencanaan perlengkapan pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu proses memikirkan dan menetapkan program pengadaan fasilitas sekolah, baik yang berbentuk sarana maupun prasarana pendidikan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan yang ingin dicapai dengan perencanaan pengadaan perlengkapan atau fasilitas tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan. Oleh karena itu, keefektifan suatu perencanaan pengadaan perlengkapan sekolah tersebut dapat dinilai atau dilihat dari seberapa jauh pengadaannya itu dapat memenuhi kebutuhan perlengkapan di sekolah dalam periode tertentu. Apabila pengadaan perlengkapan itu betul-betul sesuai dengan kebutuhannya, berarti perencanaan pengadaan perlengkapan di sekolah itu betul-betul efektif. [11]
b.      Pengadaan Pengadaan perlengkapan pendidikan pada dasarnya merupakan upaya merealisasikan rencana pengadaan perlengkapan yang telah disusun sebelumnya. Pengadaan merupakan serangkaian kegiatan menyediakan berbagai jenis sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kebutuhan sarana prasarana dapat berkaiatan dengan jenis dan spesifikasi, jumlah, waktu, tempat, dan harga serta sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengadaan dilakukan sebagai bentuk realisasi atas perencanaan yang telah dilakukan sebelumnya. Tujuannya untuk menunjang proses pendidikan agar berjalan efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang diinginkan [12]
c.       Pendistribusian Barang-barang perlengkapan sekolah yang telah diadakan dapat didistribusikan. Pendistribusian perlengkapan sekolah adalah kegiatan pemindahan barang dan tanggung jawab dari seorang penanggung jawab penyimpanan kepada unit-unit atau orang-orang yang membutuhkannya. Ada tiga langkah pendistribusian perlengkapan pendidikan di sekolah, yaitu penyusunan alokasi barang, pengiriman barang, dan penyerahan barang. Dalam kaitan dengan pendistribusian perlengkapan di sekolah ada beberapa asas yang perlu diperhatikan dan dipegang teguh, yaitu ketepatan barang yang disalurkan, ketepatan sasaran penyaluran dan ketepatan kondisi barang yang disalurkan. Sedangkan khusus dalam kaitannya dengan penyusunan alokasi barang ada empat hal yang perlu ditetapkan, yaitu penerima barang, waktu penyaluran barang, jenis barang yang akan disalurkan dan jumlah barang yang akan disalurkan.[13]
d.      Penggunaan dan Pemeliharaan Begitu barang-barang perlengkapan yang telah diadakan itu didistribusikan kepada bagian-bagian kelas, perpustakaan, laboratorium, tata usaha, atau personel sekolah berarti barang- barang perlengkapan itu sudah berada dalam tanggung jawab bagian-bagian atau personal sekolah tersebut. Atas pelimpahan itu pula bagian-bagian atau personel sekolah tersebut berhak memakainya untuk kepentingan proses pendidikan di sekolahnya. Dalam kaitan dengan pemakaian perlengkapan pendidikan itu, ada dua prinsip yang harus selalu diperhatikan, yaitu prinsip efektivitas dan prinsip efisiensi. Dengan prinsip efektivitas berarti semua pemakaian perlengkapan pendidikan di sekolah harus ditujukan semata-mata dalam rangka memperlancar pencapaian tujuan pendidikan sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dengan prinsip efisiensi berarti pemakaian semua perlengkapan pendidikan di sekolah secara hemat dan dengan hati-hati sehingga semua perlengkapan yang ada tidak mudah habis, rusak atau hilang. Dalam rangka memenuhi kedua prinsip tersebut di atas maka paling tidak ada tiga kegiatan pokok yang perlu dilakukan oleh personal sekolah yang akan mamakai perlengkapan pendidikan di sekolah, yaitu mamahami petunjuk penggunaan perlengkapan pendidikan, menata perlengkapan pendidikan, dan memelihara baik secara kontinu maupun berkala semua perlengkapan pendidikan.[14]
Sedangkan dalam hubungannya dengan pemeliharaan perlengkapan pendidikan, ada beberapa macam pemeliharaan. Ditinjau dari sifatnya, ada empat macam pemeliharaan, yaitu pemeliharaan bersifat pengecekan, pemeliharaan yang bersifat pencegahan, pemeliharaan yang bersifat perbaikan ringan,dan pemeliharaan yang bersifat perbaikan berat. Apabila dilihat dari segi waktunya, ada dua macam pemeliharaan perlengkapan pendidikan di sekolah, yaitu pemeliharaan sehari-hari dan pemeliharaan berkala.[15]
e.       Inventarisasi Salah satu aktivitas dalam pengelolaan perlengkapan pendidikan di sekolah adalah mencatat semua perlengkapan yang dimiliki oleh sekolah. Lazimnya, kegiatan pencatatan semua perlengkapan itu disebut dengan istilah inventarisasi perlengkapan pendidikan. Kegiatan tersebut merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Secara definitive, inventarisasi adalah pencatatan dan penyusunan daftar barang milik Negara secara sistematis, tertib dan teratur beradasarkan ketentuan-ketentuan atau pedoman-pedoman yang berlaku. Menurut Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor Kep. 225/MK/V/4/1971 barang milik Negara adalah berupa semua barang yang berasal atau dibeli dengan dana yang bersumber, baik secara keseluruhan atau sebagiannya, dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ataupun dana lainnya yang barang-barangnya di bawah penguasaan pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun daerah otonom, baik yang berada di dalam maupun luar negeri.[16]
f.       Penghapusan Selama proses investaris kadang-kadang petugasnya menemukan barang-barang atau perlengkapan sekolah yang rusak berat. Barang-barang itu tidak dapat digunakan dan tidak dapat diperbaiki lagi. Seandainya diperbaiki, perbaikan akan menelan biaya yang sangat besar sehingga lebih baik membeli yang baru dari pada memperbaikinya. Demikian pula, ketika melakukan inventarisasi perlengkapan, petugasnya mungkin menemukan beberapa perlengkapan pendidikan yang jumlahnya berlebihan sehingga tidak digunakan lagi, dan barang-barang yang kuno yang tidak sesuai dengan situasi. Apabila semua perlengkapan tersebut tetap dibiarkan atau disimpan, antara biaya pemeliharaan dan kegunaannya secara teknis dan ekonomis tidak seimbang. Oleh Karena itu, terhadap semua barang atau perlengkapan tersebut perlu dilakukan penghapusan.[17]
Dalam penelitian ini salah satu bahasan pokok dari manajemen sarana prasarana adalah manajemen perpustakaan, manajemen laboratorium dan media pengajaran.
B.            Mutu Pendidikan
Mutu menurut Juran, sebagaimana yang dikutip oleh Abdul Hadis dalam bukunya Manajemen Mutu Pendidikan, menyatakan bahwa mutu adalah kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan[18]
Menurut  Crosby,  mutu  adalah  Conformance  to requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau yang distandarkan. Suatu produk memiliki mutu apabila sesuai dengan standar atau kriteria mutu yang telah ditentukan, standar mutu tersebut meliputi bahan baku, proses produksi dan produk jadi.
Menurut Feigenbaum, mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya. Suatu produk dianggap bermutu apabila dapat memberikan kepuasan sepenuhnya kepada konsumen yaitu sesuai dengan harapan konsumen atas produk yang dihasilkan oleh perusahaan.[19]
Jadi   dari   beberapa   pengertian   diatas   dapat dipahami bahwa mutu berarti gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan. Dalam konteks pendidikan mutu mencakup tiga bagian yaitu input, proses, dan output pendidikan.
1) Input   pendidikan   adalah   segala   hal   yang   harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Segala hal yang dimaksud adalah sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah,  guru,  karyawan,  siswa)  dan  sumberdaya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang, bahan, dan sebagainya). Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah, peraturan undang-undang, deskripsi tugas, rencana, program, dan sebagainya. Input harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan, dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. Makin tinggi kesiapan input makin tinggi pula mutu input tersebut.
2)  Proses pendidikan merupakan kejadian berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedangkan sesuatu dari hasil proses disebut output. Proses yang dimaksud disini adalah proses pengambilan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, proses belajar serta proses monitoring   dan   evaluasi,   dengan   catatan   bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibanding dengan proses lainnya.
3)   Output   pendidikan   merupakan   kinerja   sekolah.
Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses atau prilaku sekolah. Kinerja sekolah   dapat   diukur   dari   kualitas,   efektivitas, dengan kualitas atau mutu output sekolah, dapat dijelaskan  bahwa  output  sekolah  dikatakan berkualitas atau bermutu tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi belajar siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam prestasi.
Mutu  atau  kualitas  juga  mempunyai  fungsi  dan tujuan. fungsinya sebagai sistem manajemen untuk meningkatkan kualitas produk atau outcome sehingga bisa diterima  oleh  pelanggan  dan  dapat  menghindari timbulnya kesalahan yang fatal. Sedangkan tujuan dari mutu atau kualitas adalah memberikan kepuasan terhadap kebutuhan pelanggan seefisien mungkin.
Gerakan mutu merupakan perkembangan mutu yang terdiri dari empat era. Menurut Salis, gerakan mutu memiliki empat era, yaitu inspeksi, pengendalian mutu melalui statistic, jaminan mutu, dan manajemen mutu. Gerakan mutu dimulai dari dunia industri yang menggunakan bahasa, konsep dan metodologi yang diambil dari Manajemen Mutu Terpadu atau Total Quality Management. Mulai berkembang kebutuhan untuk selalu memastikan bahwa produk perusahaan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan, memberikan kepuasan   pada   pelanggan,   serta   memberikan   nilai   untuk   mendatangkan uang.    Mencapai    kualitas    yang    konsisten    memungkinkan    konsumen untuk memiliki keyakinan tertahadap produk dan produsernya. Penghargaan serta medali emas dan perak adalah bukti adanya perhatian pada mutu.
Sebelum muncul gerakan mutu, di mana persaingan belum muncul, produsen belum memberikan kesempatan memilih pada pelanggan. Pelanggan pun tidak diberikan hak untuk menuntut mutu pelayanan yang lebih baik atau yang diharapkan. Mutu pelayanan organisasi public belum menjadi penilaian. Pengguna hanya mengutamakan yang penting produknya ada dan dapat digunakan saja. Perkembangan ini merupakan era berkembangnya jaminan mutu dengan menekankan pada biaya mutu, pengendalian mutu terpadu, reliability engineering, dan zero defect. Pengendalian mutu harus dimulai dari perancangan produk dan berakhir jika produk telah sampai ke tangan pelanggan yang puas. Menurut Feigenbaaum, salah satu pemikir Total Quality Control, kegiatan mutu apat dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu pengendalian rancangan baru, bahan baku, dan produk.[20]
Gerakan  mutu  terpadu  dalam  pendidikan  berkembang  belakangan. Ada beberapa referensi dalam literatur sebelum akhir 1980-an. Kebanyak perintisan TQM dilakukan oleh perguruan tinggi di Amerika Serikat dan pendidikan lanjutan setingkat college di Inggris. Amerika berinisiatif mengembangkan penjaminan mutu pendidikan jauh sebelum Inggris, namun di kedua negara peningkatan perhatian pada mutu terjadi dari tahun 1990 dan seterusnya. Banyak dari ide-ide yang berhubungan dengan TQM sekarang berkembang baik di perguruan tinggi dan pandangan tentang jaminan mutu sudah mulai menjadi mainstream di sekolah. Pada tahun 2001 muncul jaminan mutu di Eropa versi EFQM (European Foundation for Quality Management) penghargaan bagi pemenang untuk sekolah di Irlandia Utara. St Mary College, yaitu sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan di Londonderry, meraih penghargaan dan posisi runner-up diraih sekolah lain dari Inggris, yaitu City Technology College di Kingshurst. Keduanya adalah bukti bahwa gerakan kualitas menjadi utama dalam pendidikan.
Meskipun pengakuan atas kebutuhan mengembangkan budaya mutu masih sedikit di beberapa bidang pendidikan dan enggan untuk bergabung dengan beberapa tradisionalis yang melihat metodologi manajemen industri dan bahasa.  Inilah yang mungkin  dapat  menjelaskan keterlambatan  visi  gerakan mutu  dalam  pendidikan.  Beberapa  praktisi  pendidikan  tidak  suka menyamakan antara proses pendidikan dan manufaktur produk industri. Namun, ada kemauan untuk berkembang untuk mengeksplorasi dari dunia industri. Inisiatif dunia pendidikan baru-baru ini, seperti pertumbuhan kemitraan bisnis pendidikan telah membawa pendidikan dan bisnis lebih dekat satu sama lain dan bersama-sama telah membuat konsep industri jauh lebih dapat diterima.[21]
Deming melihat masalah kualitas terletak pada manajemen. Ini adalah wawasan penting karena pandangan mayoritas waktu adalah bahwa masalah kualitas selalu disandarkan pada kesalahan pekerja. Pengerjaan yang buruk sering dipersalahkan karena masalah kualitas. Deming menunjukkan bahwa tidak hanya budaya menyalahkan yang kontraproduktif, tetapi jika harus menyalahkan harus dialamatkan pada manajemen. Penyebab dasar dari industri masalah kualitas, menurut Deming, adalah kegagalan manajemen para senior yang merencanakan masa depan perusahaan. Mereka yang mengendalikan sumber daya yang tersedia untuk perusahaan dan kebijakan mereka memiliki dampak besar pada perusahaan budaya. Melalui tindakan mereka, mereka bertanggung jawab atas kualitas produk yang mereka hasilkan. Untuk memberikan panduan bagaimana mengelola kualitas, Deming mengemukakan 14 poin dalam manajemen mutu yang terkenal, yaitu:[22]
a.       Menciptakan konsisten tujuan
b.      Mengadopsi filosofi mutu total
c.       Mengurangi kebutuhan pengujian
d.      Menilai perusahaan dengan cara baru
e.       Memperbaiki mutu dan produktivitas serta mengurangi biaya
f.       Belajar sepanjang hayat
g.      Kepemimpinan dalam pendidikan
h.       Mengeliminasi rasa takut
i.        Mengeliminasi hambatan keberhasilan
j.        Menciptakan budaya mutu
k.      Perbaikan proses
l.        Berorientasi pada hasil
C.           Kerangka Pikir
Kerangka  berpikir  yaitu  peta  konsep  hasil  penelitian  yang akan diharapkan berdasarkan kajian teori. Kerangka berpikir menjadi pijakan dalam mendeskripsikan data atau justru menemukan  teori berdasarkan  lapangan.  Dalam hal ini,  bahwa sarana   prasarana   merupakan   pelayanan   untuk   mendukung terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Selain bergantung pada kualitas guru juga harus ditunjang dengan adanya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, karena kenyamanan siswa atau  peserta  didik  dalam  pembelajaran  juga  harus  didukung dengan fasilitas atau perlengkapan yang memadai dan layak guna.
Sehingga peserta didik akan merasakan kenyamanan dalam proses pembelajaran dan selalu berlomba-lomba untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Untuk itu, semua pihak sekolah senantiasa berupaya untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik dengan menyediakan sarana dan prasarana yang baik, seperti gedung, laboratorium, perpustakaan, ruang kesenian dan lain sebagainya.
Pelayanan yang baik tentu didasari dengan manajemen yang baik juga, oleh karena itu perlu adanya manajemen sarana dan prasarana yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan supaya mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pengelolaan sarana dan prasarana merupakan kegiatan yang penting dalam proses pembelajaran, maka untuk mengelola sarana dan prasarana yang baik tentu diawali dengan program-program yang sudah ditentukan yakni,pendistribusian, inventarisasi, pemeliharaan, penataan, dan sebagainya.Berdasarkan kerangka berpikir diatas, jika kualitas pelayanan baik maka tingkat kualitas siswa juga baik.


D.           Hipotesis

Berdasarkan pada hasil-hasil penelitian di atas, memang sudah ada penelitian-penelitian yang serupa dengan yang akan penulis teliti. Akan tetapi, dari lokasi dan studi kasus penelitiannya jelas berbeda. Penelitian ini lebih  fokus terhadap manajemen sarana dan prasarana pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan dan peneliti mengambil lokasi di MAS Annur Azzubaidi , dalam hal tersebut keterkaitan antara manajemen dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah tersebut guna untuk menghasilkan kualitas siswa yang bermutu.





                                      
















BAB III
METODE PENELITIAN

A.      Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengguakan jenis penelitian kuatitatif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk mencari fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan berbagai metode yang ada. Penelitian ini tidak mementingkan kedalama suatu data, peneliti kuantitatif tidak mengacu pada seberapa data tersebut yang terpenting bisa intuk merekam data sebanyak mungkin dari popolasi yang ada sehingga menmukan hasul yang kita cari.
Menurut sugiyono teori merupak kumpulan konsep,proposisi devinisi dan juga variabel yang mana keterkaitanya anata satu denga yang lainya secara sistematik telah berhasil digenerasikan, sehingga bisa menjelaskan dan juga memprediksi fenomena dan fakta tertentu.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian  dengan pendekatan kuantitatif yang bersifat deskriptif. Metodologi  kuantitatif sebagai proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau  lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Metode kuantitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yang merupakan sesuatu nilai dibalik data yang tampak. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi, tetapi lebih menekankan pada makna (Sugiyono, 2010: 15).
B.  Tempat Dan Waktu
            Peneliian ini dilakukan pada sekolah madrasah aliyah annur azzubaidi pendiri KH. Anang zubaidi , berdiri tahun berdiri 1997 pimpinan sekarang harmin, s.pd jumlah siswa 155 orang siswa hari/tgl observasi kamis,21 september 2018 lokasijl.s. palulu no. 30 desa.larowiu kec. Meluhu kab. konawe prov.sulawesi tenggara.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam  penelitian ini, metode yang penulis gunakan antara lain :
a. Observasi
Observasi adalah cara pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan dan pencacatan secara sistematik terhadap gejala atau fenomena yang ada dalam objek penelitian (Suharsimi Arikunto, 2002:  133). Dalam penelitian data yang diperoleh dengan cara mencatat  secara langsung objek yang diteliti. Observasi yang dilakukan pada  penelitian ini adalah dengan menggunakan observasi langsung yaitu pengamatan terhadap kondisi fisik di MAS Annur Azzubaidi dengan menentukan sarana dan prasarana pendidikan, metode, alat dan perangkat yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan  di MAS Annur Azzubaidi. 
b. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal – hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah responden besar atau sedikit (Sugiyono, 2010: 194). Dalam hal ini penulis mengadakan wawancara dengan Kepala Sekolah, Kepala bengkel dan kepala program studi guna mendapatkan informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan dalam meningkatkan mutu atau kualitas di MAS Annur Azzubaidi.
c. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan,gambar, atau karya – karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 82: 2005). Dokumen yang berbentuk tulisan misalkan catatan harian,sejarah kehidupan, biografi, peraturan, dan kebijakan. Sedangkan dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni,yang dapat berupa gambar, patung, dan film. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kuatitatif.
E.         Metode Analisis Data
            Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan  dokumentasi, dengan cara mengorganisasi data kedalam katagori, menjabarkan kedalam unit-unit melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri Dalam penelitian kualitatif teknik analisis data yang digunakan sudah jelas, yaitu diarahkan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan dalam proposal (Sugiyono, 87: 2005) Teknik analisis data merupakan bagian penting dalam penelitian, karena anlisis data dapat memberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah dalam penelitian. Dari data yang akan diperoleh kemudian dianalisis. Adapun teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara induktif yang didasarkan pada analisis kuatitatif. Beberapa diskripsi digunakan untuk menemukan prinsip-prinsip dan penjelasan yang mengarah pada kesimpulan. Penelitian kuatitatif bersifat induktif yaitu peneliti membiarkan permasalahan-permasalahan muncul dari data atau dibiarkan terbuka untuk interpretasi. Data dihimpun dengan pengamatan seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang mendetil disertai catatan-catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen dan catatan-catatan. Penelitian Kuantitatif mempunyai dua tujuan utama, yaitu pertama, menggambarkan dan mengungkap ( to deskribe and explore) dan ke dua, menggambarkan dan menjelaskan (to deskribe and explain).




                                                  











DAFTAR PUSTAKA

Minarti Sri, Manajemen Sekolah : Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri, (yogyakarta:Ar-Ruzz Media,2011),
Sulitsyoroni, Manajemen Pendidikan Islam, konsep strategi dan aplikiasi   (Yogyakarta : Sukses Offsec, 2009)
Banawi & M. Arifin Manajemen .
Suharno, Manajemen Pendidikan (sebuah Pengantar Bagi Calon guru) (Surakarta : Lembaga Pengenbangan Pendidikan UNS dan UPT Prees,2008)
Arikunto Suharsimi dan Yuliana Lia,Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: Aditiya Media, 2008).
Sri Minarti, Manajemen Sekolah, Mengelolah Lembaga Pendidikan Secara Mandiri, Yogyakarta :Ar-Ruzz, Medi: 2004)
peraturan Mentri Pendidikan Nasional No 24 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Bab II

Sulistyoroni, Manajemen.
E. Mulyasa.Manajemen Berbasis Sekolah .Konsep, Strategi Dan  Implementasi  (bandung, PT Remaja Rosdakarya , 2004 )
Bafadal Ibrahim, Manajemen Perlengkapan Sekolah : Teori dan Aplikasinya (Jakarta: PT Bumi
Abdul   Hadis,   Nur   Hayati,   Manajemen   Mutu   Pendidikan,(Bandung: Alfa Beta, 2012)
Widjaya Amin Tunggal, Manajemen Mutu Terpadu. (Jakarta: Rineka Cipta:1993)



[1] Sri Minarti, Manajemen Sekolah : Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri, (yogyakarta:Ar-Ruzz Media,2011), hal. 247
[2]Sulitsyoroni, Manajemen Pendidikan Islam, konsep strategi dan aplikiasi ( Yogyakarta : Sukses Offsec, 2009) hlm. 11
[3] Banawi & M. Arifin Manajemen . hlm 15
[4] Suharno, Manajemen Pendidikan (sebuah Pengantar Bagi Calon guru) (Surakarta : Lembaga Pengenbangan Pendidikan UNS dan UPT Prees,2008) hlm. 01
[5] Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana,Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: Aditiya Media, 2008). Hlm,273
[6] Sri Minarti, Manajemen Sekolah, Mengelolah Lembaga Pendidikan Secara Mandiri, Yogyakarta :Ar-Ruzz, Medi: 2004) hlm. 251
[7] peraturan Mentri Pendidikan Nasional No 24 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Bab II

[8] Sulistyoroni, Manajemen.hlm 115-116
[9] E. Mulyasa.Manajemen Berbasis Sekolah .Konsep, Strategi Dan  Implementasi  (bandung, PT Remaja Rosdakarya , 2004 ) hlm. 50
[10] Ibrahim Bafadal, Manajemen Perlengkapan Sekolah : Teori dan Aplikasinya (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004), hal. 5
[11]Ibid., hal. 26-27
[12] Ibid., hal. 60
[13] Ibid., hal. 40-41
[14] Ibid., hal. 42
[15] ibid., hal. 53.
[16]Ibid., hal. 5
[17] Ibid., hal. 61-62
[18]Abdul   Hadis,   Nur   Hayati,   Manajemen   Mutu   Pendidikan,(Bandung: Alfa Beta, 2012), hlm.84
[19] Abdul Hadis, Nur Hayati, Manajemen Mutu Pendidikan, hlm. 85
[20] Abdul Hadis dan Nurhayati, Manajemen Mutu Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2012), hal. 93.

[21] Ibid.hlm.124
[22]Amin Widjaya Tunggal, Manajemen Mutu Terpadu. (Jakarta: Rineka Cipta:1993), hal.43